Home / Pendidikan / Aksi Mencoret Seragam Usai UN Masih Membudaya Di Ambon

Aksi Mencoret Seragam Usai UN Masih Membudaya Di Ambon

AMBON,N25NEWS.COM – Aksi mencoret seragam usai mendengarkan hasil ujian nasional masih membudaya bagi pelajar setingkat SMK/SMK/MA di Kota Ambon hingga saat ini, Jumat (04/05).

Walaupun sudah ada larangan pasca keluarnya hasil Ujian Nasional oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemdikbud RI).

Padahal, jika kembali ke aturan yang semestinya hal Corat-coret tidak dibenarkan oleh Kemdikbud RI maupun para pemangku pendidikan yang ada di daerah.

Untuk itulah, Sebagai bagian dari pencegahannya, beberapa tahun lalu Kemdikbud RI telah menetapkan strategi pengumuman hasil Ujian Nasional dengan melibatkan pihak PT kantor pos di seluruh cabang provinsi maupun daerah untuk mengantarkan langsung hasilnya ke rumah para siswa.

Namun, hasil yang dicapai oleh strategi tersebut mampu dikalahkan oleh para siswa/siswi yang katanya jaman now.

Tak heran, jika para siswa/siswi lebih cerdik daripada yang diduga setelah para pemangku pendidikan mengeluarkan aturan tersebut.

Oleh mereka yang katanya jaman now kini mengganggap inilah keberhasilan mereka berproses selama 12 tahun lamanya khususnya ketiga tahun terlepas dari aturan putih-abu-abu.

Seperti halnya di Kota-kota besar, corat-coret juga terjadi di Kota Ambon, salah satunya pada ruas jalan Kota pada Kelurahan Wainitu, Kecamatan Nusaniwe dimana jalanan sebagai sarang berkumpulnya siswa/siswi yang sedang menantikan hasil pembelajaran mereka selama tiga tahun pada bangku SMA/SMK maupun MA.

Apalagi, Saat ini kita masih merasakan suasana peringatan Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada (02/05) kemarin.

Hal ini tentunya akan berdampak pada kualitas mutu pendidikan kita di provinsi Maluku maupun di kota Ambon khususnya.

Menyambungnya, mengutip dari website merdeka.com di tahun 2017 lalu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Muhadjir Effendy menyatakan akan melakukan reformasi sistem pendidikan nasional.

“Reformasi akan dilakukan dalam hal konseptual maupun manajerial. Melalui Pembentukan karakter sebagai roh pendidikan nasional menjadi salah satu fokus utama reformasi konseptual. Dengan harapan para siswa memiliki keterampilan dan keahlian tinggi, terutama dalam menghadapi perdagangan bebas,” katanya.

Namun faktanya, suasana Hari Pendidikan Nasional yang bertepatan dengan di ketahuinya hasil Ujian Nasional justru mewarnai jalanan dengan aksi corat-coret seragam sekolah.

“Alih-alih sebagai rasa syukur atas kelulusannya, aksi para siswa tersebut justru lebih banyak menganggu ketertiban dan kenyamanan orang lain”.

Cukup, kalau hanya mengganggu ketertiban jalanan saja, bersyukur tak sampai meregang nyawa akibat laka lantas.

Banyak dari mereka juga mengaku hanya mendengar pemberitahuan bahwa 100 persen siswa di sekolah. Untuk hal itulah, Alangkah baik, jika siswa/siswi diarahkan ke kegiatan lebih positif misalnya melakukan bakti sosial dengan membagikan seragam kepada siswa lain yang lebih membutuhkan.

Sehingga, ukuran mutu pendidikan kita tak hanya dinilai dari kelulusan siswa di tingkat SMA/SMK/MA saja, namun kualitas kelulusan tersebut dapat berdampak pada mental dan sikap para siswa dalam menjajaki jenjang pendidikan yang lebih tinggi kelak. (Amy Latuny)

About admin

Check Also

Hari Senin (24/9) Kapusdik KKP Lantik 204 Siswa SUPM Waiheru

AMBON,N25NEWS.COM – Dipastikan hari ini Senin(24/9) Kepala Pusat Pendidikan Kelautan dan Perikanan KKP, Dr. Bambang …