Bahasa Politik Dalam Sinergitas  Tokoh Tua  Dan Muda Maluku

N25NEWS.com -Salah satu sisi karisamatik seorang Bung Karno sebagai tokoh Bangsa, bahkan tokoh dunia yakni terletak pada bahasa, yang sering digunakan. Bukan hanya pada saat bertutur, akan tetapi terlebih pada saat dikumandangkan, dengan begitu menggelegar di podium pidato politiknya. Bahasa yang dimaksudkan di sini bukan bahasa resmi negara, baik bahasa persatuan Indonesia maupun bahasa asing, yang sering digunakan oleh Bung Karno. Namun bahasa yang dimaksudkan adalah bahasa politik.

Bahasa politik merupakan instrument dalam berpolitik. Seorang tokoh disebut sebagai tokoh, yang piawai dalam berpolitik apabila dia kerap kali menggunakan bahasa politik dalam setiap statement, yang terlontar dari mulutnya.

Sederet tokoh politik Indonesia memiliki gaya bahasa politik, yang berberda-beda. Pasca kepemimpinan The Founding Father Bung Karno selaku presiden pertama Republik Indonesia, para presiden Indonesia berikutnya memiliki karakter tersendiri, dalam bertutur di depan publik. Penuturan inilah yang disebut dengan bahasa politik.

Presiden kedua Republik Indonesia yaitu Soeharto, memiliki gaya bicara yang santun, tidak blak-blakan, selalu menggunakan simbol dalam pernyataan publik, dan sangat menerapkan gaya berbicara orang Jawa dengan kesan, yang sangat lembut. Hal ini berbeda dengan presiden ketiga B.J. Habibie, yang terkesan blak-blakan. Masing-masing pemimpin bangsa Indonesia memiliki perbedaan, yang sangat mencolok. Hingga sampai pada Presiden Jokowi, yang sangat kental dengan gaya bertutur Jawa, serta menggunakan berbagai jargon-jargon politik, yang sontak menyita perhatian publik.

Tak hanya para pemimpin bangsa Indonesia dari masa ke masa. Banyak tokoh dunia pula, yang sering menuai perhatian dan reaksi keras ketika bertutur dengan bahasa politik, yang dimilikinya. Presiden Amerika Serikat ke-45 Donald Trump salah satunya. Dia sering blak-blakan dalam menyerang lawan politik, dengan jargon-jargon politiknya. Bahkan tanpa menggunakan jargon sebagai sebuah simbolisasi pun, Presiden Donald Trump sering melontarkan bahasa, yang lugas dalam menyampaikan pesan di ruang publik. Hal ini tergambar pada saat memanasnya hubungan antara Presiden Donald Trump, dengan Ketua DPR Amerika Serikat Nancy Pelosi. Trump menyebut pemakzulan Nancy Pelosi terhadap dirinya dengan istilah “Perburuhan Penyihir”. Pernyataan ini sontak menyita perhatian berbagai pihak.

Peranan Bahasa Politik
Bahasa mempunyai peranan yang sangat penting bagi kehidupan manusia, baik secara pribadi maupun dalam hidup bersama. Bahasa merupakan sarana dalam menyelesaikan konflik, namun melalui bahasa pula konflik bisa ditimbulkan (Panggabean, 1981).

Salah satu contoh bahasa, yang dapat menimbulkan konflik terlihat pada penghujung tahun 2016, tepatnya pada tanggal 30 September, di mana Gubernur DKI Jakarta pada saat itu yakni Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok melontarkan pernyataan, yang menuai kecaman umat Islam di Indonesia secara luas. Ahok mengutip penggalangan ayat suci Al-Quran, surat Al-Maidah ayat 51 untuk mengilustrasikan isu SARA, yang digiring oleh lawan politiknya demi mengalahkannya pada pilkada Bangka Belitung.

Pernyataan ini sontak mendapatkan perlawanan, yang sangat masif dari berbagai organisasi masyarakat Islam dan masyarakat secara luas, meski tak sedikit juga yang membela Ahok dengan persepsi tersendiri. Tentunya hal semacam inilah, yang paling dikhawatirkan dalam bermain kata di kancah perpolitikan.

Dalam masalah ini pengunaan bahasa dalam berpolitik membutuhkan seni tersendiri, agar dapat bermain lincah. Politik itu sendiri merupakan suatu permainan dalam pertarungan. Dalam pertarungan tersebut aktor harus pandai memerankan peranannya. Bermain dengan menggunakan bahasa, yang tepat untuk mencapai tujuan yaitu kemenangan.

Politik baik dalam skala besar maupun kecil selalu berkaitan dengan kepentingan. Sebagaimana kata Jurgen Habermas bahwa bahasa adalah kepentingan. Kepentingan dari siapa yang memakainya. Mereka yang memiliki kekuasaan selalu membangun bahasanya sendiri, untuk mengamankan bahkan memperbesar kekuasaannya. Hal ini senada dengan para penganut Max Weber yang memandang bahwa inti kekuasaan adalah dominasi, yaitu menguasai siapa saja dan apa saja dengan segala cara. Mereka yang dikuasai berada dalam subordinasi dari yang berkuasa (Sugiharto, 45).

Bahasa Politik Tokoh Maluku
Sebagaimana layaknya para tokoh nasional maupun internasional, tokoh politik di Maluku pun kerap memainkan bahasa politik. Hal ini terlihat dari berbagai pernyataan, yang sering terlontar dari mulut para tokoh bersangkutan. Para tokoh yang dimaksudkan di sini yakni kepala daerah, baik para bupati/walikota maupun gubernur. Masing-masing tokoh pun memiliki karakter, yang berbeda-beda.

Walikota Ambon Richard Louhenapessy adalah tokoh politik Maluku, yang memiliki karakter cukup kuat. Beliau dikenal sebagai tokoh politik senior di jagat perpolitikan Kota Ambon, maupun Maluku. Richard selalu santai dalam mengeluarkan statement politik. Pembawaannya yang selalu akrab kepada kawan, bahkan lawan politiknya sangat mempengaruhi bahasa politik, yang sering dilontarkan.

Dengan modal karakter yang kuat tersebut membawa seorang Richard Louhenapessy, yang dulunya merupakan seorang aktivis pergerakan menjadi seorang Walikota, bahkan tokoh yang dihitung dalam kancah perpolitikan di Maluku.

Lain Walikota Ambon, lain pula Gubernur Provinsi Maluku Murad Ismail. Jenderal Purnawirawan yang pernah menduduki posisi puncak pada Korps Brimob Polri ini memiliki karakter, yang sangat kuat. Beliau merupakan tokoh politik, yang sangat lugas dan tegas dalam melontarkan statement politik di depan publik. Beliau sangat jarang menggunakan simbolisasi dalam bahasa politik. Banyak orang yang lantas begitu cepat mengartikan makna, dari setiap apa yang dilontarkan.

Kesan keras dan tegas yang tercermin dari seorang Murad Ismail, tak dapat diartikan begitu saja. Dibalik sikap tegas dan lugas dari Jenderal, yang memiliki hobi bernyanyi ini tersirat pesan, dan edukasi politik bagi masyarakatnya. Selalu terselip motivasi dibalik pesan, yang disampaikan. Sesuai dengan karakternya, yang kuat sebagai seorang petinggi militer ketegasan dalam memotivasi adalah gaya, yang mutlak harus dimiliki.

Ketegasan dan sikap lugas, yang dimiliki oleh Sang Gubernur terkikis habis manakala beliau melantunkan syair demi syair lagu, yang indah. Dalam nyayian lagu, yang dibawakan tersimpan kelembutan hati Sang Jenderal, yang satu ini. Hal ini diperkuat oleh pernyataan akademisi Universitas Pattimura Ambon, DR. Pahrul Idham Kaliky.

Menurut DR. Pahrul Idham Kaliky penampilan tidaklah cukup, dalam untuk menjadi dasar dalam mengambil suatu kesimpulan, melainkan harus mampu menerobos hingga mendapatkan gambaran nyata dibalik penampilan depan tersebut.

Beliau menuturkan pula bahwa apa, yang nampak lewat indera penglihatan hanyalah setara dengan sebuah panggung, seperti kita sedang memainkan drama. Atas dasar itulah maka siapapun dapat dengan mudah membuat kesimpulan berdasarkan apa, yang nampak dari depan itu. Namun dibalik dari yang nampak itulah, yang sesungguhnya harus dipahami oleh publik.

Ketidakpahaman inilah, yang sering terjadi di kalangan pemuda dan mahasiswa. Pemuda dan mahasiswa adalah kaum, yang sangat kritis dalam mengawal jalannya sebuah pemerintahan. Kita dapat melihat respon kelompok mahasiswa, yang sering mengkritik pernyataan tokoh politik lokal.

Realitas ini mutlak dalam sebuah negara demokrasi. Akan tetapi sekali lagi kaum kritis harus bisa memahami pula, setiap bahasa politik secara mendalam. Sehingga kritikan yang dilontarkan tidak kontradiktif dengan maksud, dan tujuan dari sebuah penyampaian oleh para tokoh, dan pemimpin lokal di Maluku.

Sinergitas Tokoh Muda dan Tokoh Politik Tua
Sudah saatnya sebuah sinergitas dibangun oleh dua segmen, yang berbeda masa. Kelompok tua dan kelompok muda di Maluku, haruslah bisa berjalan berbarengan dalam membangun negeri, yang dianugerahi Tuhan dengan sumber daya alam melimpah. Sejarah bangsa kita pernah mencatat bagaimana kolaborasi dua kelompok tua, dan muda dalam memperjuangkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pada saat kondisi yang sangat genting menuju penghujung tahun 1945, Wikana, cs. berhasil mendesak dua founding fathers Bung Karno, dan Bung Hatta untuk segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Catatan sejarah ini tak boleh dilupakan oleh pemuda Indonesia, khususnya pemuda Maluku. Sehingga senergitas di setiap waktu bisa terus dibangun. Namun, tak lupa pula oleh kelompok politik senior, dalam memberikan ruang bagi pemuda.

Maluku menanti kerja bersama setiap anak bangsa untuk membangun. Politik merupakan perangkat untuk membangun, dan bahasa politik adalah senjata dalam mencapai sebuah tujuan. Tentunya tujuan yang mulia dalam membangun Maluku, yang lebih baik lagi bagi anak cucu di masa depan.

Check Also

Maluku Tenggara Miliki SDA Melimpah,Namun Belum Dikelola Secara Baik

MALRA,N25NEWS.com-Menyusuri dengan melangkakan kaki di pedesaan Kabupaten Maluku Tenggara (Malra) banyak potensi sumber daya alam …