Breaking News

Caleg Door to Door

N25NEWS.COM  – Pierre Felix Bourdieu (1930-2002) salah seorang sosiolog berkebangsaan Prancis mengatakan bahwa, muatan modal sosial yang dimiliki seseorang tergantung dari ukuran jaringan koneksi-koneksi yang dapat dia mobilisasi dan muatan modal-ekonomi, kultural, dan simbolik yang dimiliki oleh orang yang menjadi koneksinya.

Beranjak dari pendapat Bourdieu itu, tentu tidak semua calon anggota legislative (caleg), yang tampil sebagai kontestan dalam Pemilu 2019 selalu menggunakan modal ekonomi, berupa kekuatan finansial untuk menggalang dukungan pemilih (voter), guna memilih mereka pada hari pencoblosan. Ternyata ada juga caleg yang tampil sebagai kontestan pada Pemilu kelima pasca Orde Baru ini, dengan mengandalkan modal sosial, berupa kekuatan relasi kekeluargaan (family).

Sudah dipastikan para caleg ini memiliki modal finansial yang minim, tapi tidak menyurutkan langkah mereka untuk meyakinkan para pemilih, agar dapat memilih mereka pada saat pencoblosan. Sikap seperti ini perlu disambut positif oleh public, meskipun lebih mengedepankan pendekatan sosiologis, namun mampu menghindarkan praktek money politic, yang bukan rahasia lagi sering dilakukan para caleg, yang memiliki modal ekonomi signifikan.

Seperti dikisahkan seorang caleg salah satu partai politik, untuk DPRD Provinsi Maluku, dari daerah pemilihan (Dapil) Kota Ambon : “saya dari pintu ke pintu (door to door) mengunjungi family saya, yang mendiami seluruh kecamatan di Kota Ambon, dimana meskipun pada satu desa/kelurahan hanya satu rumah didiami keluarga saya, tapi saya berusaha menemui mereka meskipun rumah mereka berada agak jauh di puncak bukit.” Perkiraan politiknya, melalui dor to dor akan mampu meyakinkan mereka, untuk mencoblosnya.

Dalam perspektif ini, adalah relevan kita menyimak pendekatan sosiologi dalam perilaku memilih (voting behavior), yang lazim dikenal dengan The Columbia Study/Mazhab Columbia, yang dipelopori Paul Felix Lazarsfeld, seorang sosiolog berkewarganegaraan Amerika Serikat pada tahun 1940. Pendekatan sosiologis memperlihatkan bahwa, ada pengaruh antara nilai-nilai sosiologis yang menempel pada diri individu yang memengaruhi perilaku seseorang dalam politik. Nilai-nilai sosiologis tersebut berupa agama, kelas sosial, etnis, daerah, tradisi keluarga dan lain-lain.

Apa yang dilakukan caleg tersebut, tentu berdasarkan relasi emosional yang meskipun dianggap mengarah ke praktek perkoncoan, tapi ini adalah solusi murah meriah yang ditempuh oleh para caleg. Tatkala para caleg itu terpilih sebagai wakil rakyat, tentu mereka harus tampil sebagai negarawan dengan mengakomodasi kepentingan rakyat pada umumnya, disamping tetap memperhatikan kantong-kantong pemilih tradisional mereka, yang tak lain adalah keluarga mereka, sebagai bentuk penghargaan mereka.

Oleh  :M.J. Latuconsina

About admin

Check Also

Sepak Bola Kabupaten Seram Bagian Barat Dan Harapan Kasi Bae SBB

N25NEWS.COM – Sepak  Bola  adalah  olahraga  yang  paling  digemari hampir diseluruh penjuru indonesia, tidak  ada …