Dampak Gempa, Tiga Program Diklat BDK “Force Majeure”

AMBON ,N25NEWS.com-Gempa Magnitudo 6,8 yang dilanjutkan dengan ratusan gempa susulan, membuat trauma seluruh warga Kota Ambon, termasuk Aparatur Sipil Negara (ASN) Balai Diklat Kegamaan (BDK) Ambon yang terpaksa harus melaksanakan tiga program pendidikan dan pelatihan (diklat) dengan “Force Majeure”.

Pengertian Force Majeure sendiri kata mantan Kepala BDK Dr. H. Abdul Kahar yang ditemui koran ini mengatakan, adalah suatu kejadian yang terjadi di luar kemampuan manusia dan tidak dapat dihindarkan sehingga suatu kegiatan tidak dapat dilaksanakan atau tidak dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya dan itu bisa dipertanggungjawabkan.

Sementara tiga program diklat yang harus akan dilaksanakan meliputi, diklat penyusunan program dan rencana kerja, diklat pejabat pembuat komitmen madrasah, serta pengembangan diri dan peningkatan integritas tahun anggaran 2019.

Ketiga diklat tersebut melibatkan, 90 peserta dari ASN lingkup Kemenag Maluku dan Maluku Utara (Malut) dengan melibatkan tenaga pengajar dari Widyaiswara BDK Ambon dan tenaga profesional dari instansi terkait.

Tujuannya untuk membekali para PPK lingkup Kemenag mampu mengendalikan kontrak pengadaan barang/jasa sesuai dengan peraturan yang berlaku, serta membekali SDM Kemenag dalam penyusunan program dan rencana kerja, termasuk membekali ASN untuk mengembangkan potensi diri dan integritas.

Meskipun dalam suasana kondisi trauma, diklat yang berlangsung di aula BDK Ambon sempat berjalan dengan aman dan lancar yang dibuka secara Force Majeure oleh Kepala Seksi Teknis Keagamaan BDK Ambon
Sudirman, S.Ag. M.Si.

Dalam suasana yang tidak memungkinkan Sudirman mengatakan, bahwa kita patus bersyukur karan Allah sempat mempertemukan kita, meskipun dalam situasi yang begitu mencekam lantaran guncangan gempa setiap saat tetap masih terasa.

Baca juga :   Resmi Gereja Imanuel, Gubernur : Rumah Ibadah Simbol Kehadiran Tuhan

Dikatakan berdasarkan amanat UU, Diklat tetap berjalan sesuai yang sudah diprogramkan, namun dengan kondisi saat ini kita telah diuji oleh Allah SAW dengan ujian yang cukup berat, tapi kita perlu istiqomah untuk menghadapi semua ini.

“Selama saya di Ambon kurang lebih 15 tahun, baru kali ini menjumpai gempa yang cukup dahsyat seperti kemarin,”ungkap Sudirman.

Oleh karena itu, secara psikoplog kita yang hadir pasti masih dalam kondisi trauma, sehingga diklat yang dilaksanakan, harus disesuikan dengan kondisi darurat, sehingga harus merujuk pada aturan yang berkaitan dengan kondisi yang ada saat ini, agar dapat mengambil kebijakan yang tepat sehingga kebijakan yang diambil tidak menyalahi aturan.

Dengan demikian lewat koordinasi, maka diklat yang diambil BDK Ambon, meraju pada “Force Majeure” akibat kondisi darurat sehingga dapat membatalkan semua aturan yang ada.

“Artinya aturan bukan ditiadakan, tatapi aturan tidak bisa diterapkan dalam kondisi seperti ini, bahkan kondisinya juga berdampak pada orang-orang (peserta) yang saat ini kondisinya trauma atau stres dengan serangkaian guncangan gempa,”ujarnya.

Meskipun meraju pada Force Majeure, pihak BDK Ambon tetap berkewajiban untuk membuat berita acara sesuai dengan kondisi yang dirasakan, dengan tetap berkewajiban untuk melayani dan memberikan apa yang menjadi hak peserta diklat.

Reporter:Rian M

Editor : Redaksi

Check Also

Pulang Kampung, Pentury Bagikan Bantuan Tali Asih ke Dua Desa di SBB

SBB,N25NEWS.com – Direktur Jenderal (Dirjen) Bimbingan Masyarakat (Bimas) Kristen Kementerian Agama (Kemenag) RI, Thomas Pentury …

×

N25NEWS.com