Breaking News

Di Balik Rusuh Maluku, Suling Bambu Pendamainya

AMBON,N25NEWS.COM – Musik suling Bambu Maluku dikenal sebagai musik tradisi dan etnik yang dilihat sangat kuno.

Pasalnya, Musik suling bambu hanya dikumandangkan pada acara ritual seperti menghantarkan liturgi Gereja dan upacara adat saja. Demikian, berdasarkan kacamata generasi yang katanya jaman now, kemudian melihat musik ini sudah terlalu kuno untuk di mainkan.

“Menurut saya, Itu manusiawi,” Ucap Maynard Raynolds Nathanael Alfons, yang kerap di sapa Rence Alfons, disela percakapan bareng Najwa Shihab di ajang Konferensi Musik Indonesia, (09/03) lalu, pada Taman Budaya Provinsi Maluku, Karang Panjang, Kota Ambon.

Namun, bila di tinjau dari sisi Musisi lokal, kemudian apalah itu musik suling bambu. Rupanya perkembangan musik suling bambu punya cerita tersendiri sudah sejak 10 tahun lalu yang menarik perhatian seorang Presenter, Najwa Shihab untuk menggali lebih potensi Maluku dan Seni Musiknya serta memberi informasi bagi para delegasi Konferensi saat itu.

“10 tahun Lalu, saya teringat musik suling ini hampir terancam punah. Suara suling bambu pun kemudian tak terdengar lagi pada khalayak umum. Untuk itu saya berpikir apa yang harus dilakukan supaya musik suling tidak hilang dari Maluku. Nah, kemudian saya mengumpulkan seitap orang dari berbagai kalangan dan tingkat pendidikannya, Mulai dari Tukang Ojek, pelajar PNS, TNI , Polisi yang pensi bahkan Penyuling Sopi pun saya tarik,” singkatnya.

“Kita main suling bambu, kita buat paradigma baru . Saya ingat, kolaborasi luar biasa kita dengan Bung Frengky Syahailatua Alm. ternyata respons positif dan menantang saya sampai sekarang ini untuk mempertahankan musik suling bambu Maluku ini,” pungkasnya.

Baca juga :   BPNB Tampilkan Kuliner dan Seni Budaya Melalui Lomba Tutur Cerita Rakyat

Disisi lain, Musik suling bambu ini kemudian dikemas dalam sebuah orkestra musik sebagai salah musik perdamaian.

“Pada tahun 2005, setahun sudah pasca konflik di Maluku, saya kemudian berinisiatif mengumpulkan hampir 30 orang dari kalangan yang berbeda, dan berbagai agama baik Kristen maupun Islam, kita padukan dan mulai mengajar mereka satu per satu bagaimana cara memainkan suling bambu. Setelah nya, kita memulai orkestra kita,” tuturnya.

Musik orkestra suling bambu ini kemudian dipadukan dengan aransemen pentatonik Jawa, yakni musik gamelan Jawa, Pelok namanya.

Rence kemudian merasa perlu, Sehingga dirinya  harus melakukan revitalisasi suling bambu. Instrumen ini kemudia  bukan hanya pada bentuk dan metode pembuatan instrumen yang mempengaruhi kualitas bunyi dan musik penggarapan aransemen lagu, akan tetapi, juga pengemasan dan produksi pertunjukan yang lebih menarik Sejak 2005, pasca didirikan Molucca Bamboowind Orchestra (MBO).

Melalui kerja keras 10 tahun , perlahan musik suling hidup dan kini menunjukkan geliat yang luar biasa. Dengan memiliki lebih dari 1000 personil, yang berlatar belakang berbeda. Mereka diterima tanpa memandang latar belakang agama. Rentang usianya pun bervariasi, 11-70 tahun ke atas.

Alhasil, sebuah perjalanan musik ini sukses. Lebih luar biasa,, melalui MBO, dimulai dari pertikaian antar daerah, di satukan dalam orkestra , dan hasilnya menuai perdamaian.
(Amy Latuny)

About admin

Check Also

Amboina Ukulele Kids Community Dapat Donasi 13 Ukulele Dari Warga Selandia Baru Dan Australia

AMBON,N25NEWS.COM – Amboina Ukulele Kids Community kembali mendapat donasi 13 Ukulele masing-masing 10 buah dari …