Breaking News
Salah satu bentuk ikatan kai wait Foto bersama tim dengan pemda setempat (dok.tim)

Kai Wait ; Cermin Budaya Orang Buru

N25NEWS.COM – Dalam konteks manusia dan kebudayaan, orang Buru sebagai komunitas masyarakat adat di Maluku memiliki adat istiadat yang dijadikan sebagai sebuah identitas diri yaitu kai wait. Kai wait berasal dari Bahasa Buru, kai artinya kakak dan wait artinya adik. Jadi kai wait artinya kakak adik. Konsep kai wait selalu dipakai dalam berbagai dimensi hidup orang Buru. Sama halnya dengan konsep pela gandong bagi orang Ambon Lease dan Seram, konsep Aini Ain bagi orang Kei, konsep Fangnea Kidabela orang Tanimbar Maluku Tenggara Barat, konsep Inanara Amalyali bagi orang Maluku Barat Daya.

Dalam perjalanan sejarah sebagai orang Maluku, konflik social yang melanda Maluku pada tahun 1999 silam meninggalkan luka mendalam bagi orang Maluku. Karena kehilangan orang-orang yang dicintai, kehilangan tempat tinggal, putus sekolah, dan sebagainya. Bahkan terkikisnya nilai-nilai hidup orang basudara yang sudah tertanam sejak zaman para leluhur orang Maluku. Pulau Buru termasuk salah satu wilayah konflik. Pada waktu kejadian penulis sendiri mengalaminya yaitu masih ada di bangku SMA kelas 1, waktu itu sedang liburan ke kampung (desa Waeputih Kec. Waplau). Ketika kerusuhan pecah, komunitas Kristen langsung berkumpul dan mengamankan diri di Gereja dan lanjut menyelamatkan diri ke hutan. Pada waktu itu hubungan kai wait sudah tidak lagi dipandang sebagai ikatan orang basudara, yang ada hanyalah kemarahan dan kebencian karena pengaruh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Seiring berjalannya waktu, kondisi berangsur-angsur pulih, dengan upaya-upaya damai yang dilakukan oleh berbagai pihak yaitu adat, gereja , dan pemerintah daerah setempat dengan pendekatan budaya local “kai wait”.

  • Kai wait dalam dinamika Sosial Budaya

Konsep kai wait atau hidup orang basudara menjadi sebuah dasar hidup orang Buru yang melintasi agama, suku, dan ras. Sebagaimana konsep orang basudara di Ambon Lease yang mengenal hubungan pela gandong, orang Kei mengenal ain ni ain, sedangkan orang Maluku Barat Daya mengenal budaya kalwedo dan filosofi Inanara Amalyali. Konsep hidup orang basudara ini dijadikan dasar dan nilai hidup bersama sebagai sekelompok komunitas social.

Orang Buru memiliki adat istiadat yang dijadikan sebagai sebuah identitas diri yaitu Kai wait.Sama halnya dengan konsep…

Dikirim oleh n25news.COM pada Senin, 15 April 2019

Secara terminology kata kai wait dalam Bahasa Buru kai artinya kakak, dan wait artinya adik, sehingga pengertiannya adalah kakak adik. Dalam konteks social budaya konsep  kait wait atau hubungan kakak adik tidak hanya mencakup hubungan sedarah dan sekandung tetapi lebih luas yang mencakup hubungan wali (ipar) dawen (konyadu). Konsep kai wait mengacu pada tiga hal yaitu a) secara garis keturunan, b) asal usul, c) secara perkawinan. A) secara garis keturunan, hubungan kait wait tentu pada hubungan sedarah atau sekandung karena berasal dari satu ayah dan ibu, dalam ikatan satu keluarga inti atau batih, b) secara asal usul, hubungan kait wait didasarkan atas kesadaran dan keyakinan bersama berasal dari satu leluhur. Orang Buru meyakini mereka berasal dari satu asal yaitu Danau Rana dan Gunung Date (kaku Date). Kedua tempat ini merupakan tempat keramat orang Buru yang sangat dijaga kesakralannya dari gangguan-gangguan dan atau perlakuan tidak baik dari orang luar. Mereka percaya berasal dari satu sumber, dan dari tempat keramat inilah lahir 24 suku di Buru yang tersebar di seluruh pulau Buru dalam wilayah-wilayh adat mencakup Buru Selatan dan Buru (Utara) hingga sekarang. Wilayah –wilayah adat dibagi berdasarkan petuanan adat atau tanah dati maasing-masing yang dikenal dengan regenschap. C) secara perkawinan, hubungan kai wait didasarkan atas ikatan wali dawen atau ipar konyadu, orang luar Buru yang kawin dengan orang Buru asli, akan dianggap keluarga kai maupun wait dalam konteks ipar konyadu atau wali dawen oleh keluarga orang Buru asli tersebut.

Jadi hubungan orang basudara di Buru tercermin dalam hubungan saudara kakak adik. Menurut salah satu sumber, bahwa konon pernah terjadi keretakan hubungan saudara adik dan kakak karena masalah pemilikan tanah. Mereka ribut karena pemilikan tanah dengan tidak memandang hubungan dan status mereka sebagai saudara. Sejak saat itu mereka berjanji dan mengambil sumpah untuk hidup sebagai saudara dalam ikatan kakak dan adik yang berasal dari satu asal, satu ibu dan bapak. Hubungan ini melintasi ikatan perkawinan bahkan keturunan, yang mencakup ipar dan konyadu. Mereka yang bukan berasal dari Buru namun telah ada dalam ikatan perkawinan akan menjadi bagian dari kai wait. Dalam interaksi social antar individu dalam masyarakat dengan sapaan kai atau wait, atau wali dan dawen.

Kondisi masyarakat di Pulau Buru yang heterogen, dimana masyarakat terbagi dalam orang asli Buru yang disebut Geba Bupolo dan orang pendatang yang disebut Geba Misnit. Tentu terdapat beragam suku pendatang yang ada akibat perkawinan campur, para transmigran bekas tahanan politik era orde baru yang dibuang ke pulau Buru tepatnya di desa Savanajaya, para pedagang luar, dan para pegawai / pekerja yang bertugas di Buru tentu telah menjadi bagian dari orang Buru. Kondisi heterogenitas ini makin maraknya dengan adanya fenomena tambang emas beberapa tahun lalu. Para penambang luar dari berbagai suku di Indonesia berdatangan untuk menambang emas, mungkin saja dengan alasan-alasan lain. Fenomena ini tentu berdampak pula pada ketahanan budaya dan identitas diri orang Buru karena masuknya berbagai pengaruh luar. Ditambah lagi dengan perkembangan teknologi dan modernitas yang kini melaju pesat.

Falsafah hidup kai wait menjadi dasar hidup orang Buru yang sarat nilai dan manfaat bagi kehidupan social budaya di Pulau Buru. Filosofi kai wait yang melewati batas hubungan genealogis, agama, dan suku, yang memiliki perbedaan namun tetap satu dalam bingkai hidup orang basudara kai wait. Walaupun di zaman sekarang dengan kecanggihan teknologi yang menawarkan berbagai kemudahan dan produk-produk yang membuat hidup ini mudah, seiring dengan itu juga masuknya pengaruh-pengaruh negative bagi masyarakat. Ditambah lagi dengan fakta sejarah yang melanda Maluku pada tahun 1999 silam yang mengakibatkan segregasi social, agama, dan budaya, namun dengan pendekatan budaya lokal dan penyelesaian secara kekeluargaan dengan konsep Kai wait dan pela gandong, konflik dapat diselesaikan. Dan hingga sekarang kedamaian itu dapat dirasakan. Tugas kita sekarang adalah bagaimana mengisi pembangunan dengan melestarikan kebudayaan dan kearifan lokal yang sarat nilai-nilai hidup.

 

Editor :Redaksi

Oleh : Eklevina Eirumkuy (Peneliti Pertama pada BPNB Maluku)

 

Sumber Rujukan :

Grimes, Barbara. 1993. “The Pursuit of Prosperity and Blessing: Social Life and Symbolic Action on Buru Island of Eastern Indonesia” (Ph.D dissertation). Australian National University, Canberra.

Eirumkuy Eklevina, Suku bangsa di Kabupaten Buru, Jurnal Penelitian Volume 7 Nomor 5 Edisi November 2013. Balai Pelestarian Nilai Budaya Maluku, Ambon.

Ranjabar Jacobus, Sistem Sosial Budaya Indonesia ; Suatu pengantar. Ghalia Indonesia Bandung 2006.

Sedubun Nikodemus, Memahami Konteks Sebagian Kebudayaan Buru, Opini Teologi

http://ohoi-ra.blogspot.com/2014/03/memahami-konteks-sebagian-kebudayaan.htmldiakses pada April 2019.

 

 

 

About admin

Check Also

Kota Kreatif Adelaide Dukung Ambon jadi UNESCO City Of Music

AMBON,N25NEWS.COM – Upaya Pemerintah Kota Ambon melalui Ambon Music Office untuk mendaftarkan kota ini sebagai …