Home / Maluku / Ketika Nunusaku Hilang Harga Diri, Ini Yang Bakal Dilakukan Kalesang Maluku Oleh : Amy Latuny
Simbol Nunusaku Nilai Adat Orang Maluku Terlihat Hanya Jadi Hiasan Trotoar /Foto:BM

Ketika Nunusaku Hilang Harga Diri, Ini Yang Bakal Dilakukan Kalesang Maluku Oleh : Amy Latuny

“Kesakralan sebuah budaya adat orang Maluku sepertinya halnya bagian terpenting dari nilai budaya tersebut, salah satunya simbol orang Maluku ‘Nunusaku’ kini tak lagi dihargai oleh pemerintah Kota Ambon. Sah saja! Dimanakah kesadaran budaya Pemerintah saat menghiasi trotoar jalan dengan coretan Nunusaku lalu di hinjaki pejalan kaki? Apakah ini sebuah pembenaran Pemerintah saja untuk menarik simpati masyarakat, Ya Kota Ambon Indah. Lalu mengabaikan budaya”

AMBON, N25NEWS.COM – Penghargaan nilai-nilai budaya di Maluku kini terombang-ambing oleh jati diri dan harga dirinya yang perlahan terkikis, mengilang hingga tak ada sama sekali akibat ulah pemerintah kota Ambon.

Pasalnya, Pemkot Ambon kini dianggap tak lagi menghargai nilai budaya orang Maluku hanya untuk sebuah obsesi visi dan misi melakukan pembenahan terhadap kota lalu mengabaikan nilai tersebut dengan menghiasi hampir seluruh trotoar di jalan kota menggunakan coretan simbol Maluku ‘Nunusaku’.

Terhadap kekesalan sekaligus kritik kepada Pemkot Ambon, Ketua Komunitas Kalesang Maluku,Vigel Pemilaun Faubun, Kamis (24/05/18) kini menegaskan bersama rekan komunitasnya akan melakukan aksi protes pada Pemkot jika pimpinannya maupun dinas terkait tak segera merombak/menghapus kembali hiasan simbol adat kesakralan orang Maluku pada penggunaan jalan kaki/trotoar.

Baginya, sebuah bangsa mau dikenal itu harus melalui budaya. aturan adat dengan aturan pemerintah boleh saja sepaket namun simbol adatnya tidak ada, ucapnya di Ambon.

“Tujuan penghargaan nilai budaya sebenarnya untuk pribadi kami Komunitas Kalesang Maluku setalah diadakannya rapat bersama komitmen yang kemidan kita ambil ialah menyikapi sikap pemerintah melalui aksi protes pemerintah kota Ambon dalam hal ini mendesak pemerintah agar segera melakukan perombakan simbol adat pada penggunaan jalan,” ungkap Faubun.

Selain kritik terhadap Pemkot Ambon, Faubun juga menanyakan dimanakah kepedulian Dewan Upulatu Negeri Provinsi Maluku terlebih khusus Kota Ambon dalam melihat kejanggalan yang dilakukan oleh Pemkot Ambon setelah mengetahui bahwa simbol adat Maluku ‘Nunusaku’ kemudian dijadikan hiasan trotoar yang ujungnya di hinjak orang.

“Kalau Dewan Majelis Adat menggasah Pemerintah Daerah untuk mempercepat Perpu Desa/Negeri, namun mengapa tak disadari bahwa yang paling mahal pada sebuah nilai budaya itu adalah simbol adatnya,” pikirnya kesal.

Baca juga :   Polda Maluku Gelar Safari Ramadhan

Dirinya mengakui, sudah sejak empat tahun lamanya pihaknya menantikan respons baik dari pihak Pemkot Ambon maupun Upulatu Negeri. namun hingga saat ini tak kunjung mereka menerima respons tersebut. alih-alih malah menjadi bahan candaan.

“Inikan hanya simbol. namun ada didalam diri kita. Tahu benar ada didalam diri kita dan orang Maluku tahu itu. akan tetapi untuk memiliki kesakralannya sudah hilang. seperti halnya kita mengambil simbol adat orang Hative Besar atau Naku yakni simbol empat arah mata angin lalu di hinjak didepan penduduk tersebut, marah tidak tuh ? pasti akan sangat marah. nah ini yang kemudian menjadi kereserahan kita bersama. simbol adatnya orang Maluku di coret di trotoar jalan lalu di hinjak,” tandasnya kesal.

Bagi Komunitas, ini merupakan pembodohan generasi baru. kalau lambang sakral saja sudah di hinjak oleh masyarakat Maluku, akan dipastikan 10 hingga 20 tahun kedepan generasi Maluku baru sudah tak lagi mengenal simbol sakral Maluku seperti apa. bahkan mungkin akan mengganggap lambang sakral Maluku ini sebagai tiruan dari negara lain.

Untuk itu, dirinya mewakili seluruh Komunitas Kalesang Maluku menyuarakan hari ini kepada Pemkot Ambon tolong di renovasi kembali untuk memulangkan kembali keskaralan lambang/simbol adat Nunusakunya orang Maluku.

“Kita akan menunggu hingga tenggang waktu 2 hingga 3 bulan kedepan. tepat pada Proklamasi Kemerdekaan 17 agustus 2018 nantinya jika tak ada respons baik lagi, maka aksi bongkar seluruh trotoar bercoretkan simbol tersebut akan kami pastikan terjadi.

Berawal dari hal kecil inilah Maluku menjadi besar sekalipun faktanya Maluku tak akan pernah keluar dan terlepas dari masalah pendidikan, sosial, budaya bukan saja dari pemerintah admistrasi dsb namun menghargai budaya itulah yang dipertahankan. Pemimpin yang menghargai budaya berarti pemimpin yang tahu darimana asal dia datang dan dimana tempat dia dibesarkan.

About admin

Check Also

Lasqi Maluku Gelar Festival Lagu-lagu Sahur Oleh : Gali Markalin

AMBON,N25NEWS.COM – Meriahkan bulan suci Ramadhan 1439 H/2018 M Lembaga Seni Qasidah (Lasqi) Provinsi Maluku …