Home / Opini / Lahirnya Esensi Pancasila Kembali Ke Jati Diri Bangsa

Lahirnya Esensi Pancasila Kembali Ke Jati Diri Bangsa

Jandry Tuhumury, Pejuang Pemikir Pemikir Pejuang

N25NEWS.COM – Merupakan warisan budaya dan karya bersama, itulah Pancasila.

Dengan rendah hati Ir. Soekarno atau kerap disapa Bung Karno sendiri mengakui bahwa ia bukanlah penciptanya melainkan sekedar penggalinya.

Pancasila lahir sebagai dasar negara yang merdeka, berdaulat dan mewakili untuk keterwakilan keberagaman suku, ras, wilayah, Bahasa dan agama di Indonesia.

Tak dapat dipungkiri “Lahirnya Pancasila” adalah judul pidato Yang disampaikan oleh Ir. Soekarno dalam sidang Dokuritsu Junbi Cosakai atau Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada tanggal 1 Juni 1945.

Bersemboyan “Bhineka Tunggal Ika”, itulah Pancasila. Hanya Pancasila Yang mampu merekatkan perbedaan Dalam konteks ke-Indonesiaan.

Sejatinya sebagai dasar-dasar bernegara hal ini merupakan sebuah rumusan yang konkrit Tanpa ada tawar menawar untuk keberagaman Indonesia dengan proses Yang begitu panjang dan berliku, Pancasila melahirkan sebuah nilai keluhuran Yang terkandung dalam hidup berbangsa Dan bernegara sepanjang sejarah Indonesia.

Harus diakui, pidato Bung Karno tentang Pancasila pada 1 Juni 1945 merupakan tonggak penting dalam perumusan dasar negara kita. Meski demikian, kesejarahan Pancasila tidaklah bermula dan berakhir pada saat itu pula.

Sejarah konseptualisasi Pancasila melintasi serangkaian proses panjang dimulai Dari fase pembuahan, fase perumusan dan fase pengesahan

Fase pembuahan dimulai sekitar dekade 1920-an dalam bentuk rintisan gagasan untuk mencari sintesis antarideologi dan gerakan seiring dengan proses penemuan Indonesia sebagai kode kebangsaan bersama (civic nationalism) yang dikukuhkan melalui peristiwa Sumpah Pemuda Yang jatuh pada 28 oktober 1928.

Fase perumusan dimulai pada masa persidangan pertama BPUPKI dengan Pidato Bung Karno sebagai mahkotanya yang memunculkan istilah Pancasila kemudian digodok melalui pembentukan Panitia Sembilan yang menyempurnakan rumusan Pancasila dari Pidato Soekarno dalam versi Piagam Jakarta hingga Fase  pengesahan dimulai sejak 18 Agustus 1945 bersamaan dengan penetapan UUD 1945 sebagai konstitusi negara.

Setiap fase konseptualisasi Pancasila itu melibatkan partisipasi berbagai unsur dan golongan. Meski demikian, tak  dipungkiri bahwa dalam karya bersama ada individu-individu yang memainkan peranan pentingnya salah satunya Bung Karno.

Dalam lintasan panjang proses konseptualisasi Pancasila tersebut dapat dikatakan bahwa 1 Juni merupakan hari kelahiran Pancasila. Pada hari itulah, rumusan lima prinsip dasar filsafat negara dan pandangan hidup bangsa mulai menemukan bentuk awalnya dan istilah Pancasila pun mulai disebut sebagai namanya.

Untuk proses panjang itulah, Negeri ini jangan hanya menjadi guratan sejarah layaknya kerajaan Majapahit dan Sriwijaya.

Ancaman yang datang dari dalam dan luar nampak terlihat seakan merobek rasa kebangsaan dan kebhinekaan kita.

Semangat nasionalisme kita sudah mulai luntur seiring masuknya budaya westrenisasi yang mempunyai pengaruh signifikan jika tak terfilterkan.

Krisis jati diri bangsa pula di tengarai akibat semakin merosotnya pelaksanaan nilai-nilai yang menjadi identitas nasional (national identity) bangsa kita baik langsung maupun tidak langsung.

Hingga secara sadar kita telah menurunkan kualitas penghargaan dan pelaksanaan prinsip religiusitas, humanitas, nasionalitas, soverenitas dan soliditas kita sebagai bangsa.

Berbagai fenomena sosial yang akhir-akhir ini terjadi adalah penanda bahwa kita semakin jauh dari jati diri kita yang berdasarkan pada pancasila.

Dimana, keberhasilan pancasila sebagai suatu ideologi akan di ukur dari terwujudnya kemajuan yang pesat, kesejahteraan yang tinggi, dan persatuan yang lahir dari seluruh rakyat Indonesia.

Lebih dari itu, di pandang perlu untuk di susun sebuah strategi road map penempatan pancasila sebagai sistem hidup dan paradigma yang di perkuat dengan kekuatan hukum untuk di berlakukan dalam setiap lapisan masyarakat.

Sebagaimana alur pikir Bung Karno dalam menggagas konsep pancasila adalah pikiran yang dialektis, progresif, revolusioner dan bersumber pada tuntunan budi manusia.

Menjawabnya, Pancasila harus di maknai dalam pandangan Historis Visioner (Lintas Waktu) oleh karena kunci sederhana memaknai pancasila ialah sikap Gotong Royong tanpa memandang apapun.

Solusi akan strategi pembudayaan pancasila yang tepat melalui konverganasi Harmonis dalam setiap aspek kehidupan masyarakat yakni Pancasila harus di masyarakatkan agar lahir masyarakat pancasila yang memandang perbedaan sebagai anugerah yang saling menguatkan.

Dengan demikian, Refleksi Peringatan ke-73 Lahirnya Pancasila haruslah dimaknai dalam rasa, harus di amalkan lewat tindakan dan rekatkan dalam  keberagaman, karena Pancasila adalah Rumah kita bersama.

About admin

Check Also

Hentikan Survei Manupulatif

AMBON,N25NEWS.COM – Tahun 2018 merupakan tahun politik dan sebentar lagi kita akan disibukan dengan pesta …