Home / Maluku / Masyarakat Adat Suku Naulu Sampaikan Tuntutan Menolak Pengoperasian PT.Bintang Lima Makmur
Masyarakat Adat Suku Naulu Sampaikan Tuntutan Menolak Pengoperasian PT.Bintang Lima Makmur

Masyarakat Adat Suku Naulu Sampaikan Tuntutan Menolak Pengoperasian PT.Bintang Lima Makmur

AMBON,N25NEWS.COM-Masyarakat Suku Naulu sangat terganggu dengan kehadiran beberapa perusahaan salah satunya  PT.Bintang Lima Makmur yang mendapat ijin IUPHHK-HA dari pemerintah untuk mengambil kayu-kayu dalam hutan adat dengan luas 24.550 HA,dengan nomor ijin SK-537/Menhut-11/2012.

Hal tersebut disampaikan salah satu perwakilan pendemo dari masyarakat adat suku Naulu pada saat bertemu dengan Gubernur Maluku Said Assagaff diruang Kerja Kantor Gubernur Maluku,rabu (7/11/2018).

Lebih lanjut perwkilan masyarakat suku Naulu tersebut mengatakan,”Kami masyarakat Adat Suku Naulu yang berkelompok berdasarkan marga-marga yang terdiri dari 14 marga,yaitu Matoke Numanatu,Tunpasa,Aipura,Ainakahata,Soumory,Kamama,Nepany Yaiyo,Neipany Mareta Naene,Nahatue,Pia,Sopanan,Numanaite,Penisa dan Huni nyatakan sikap menolak,”katanya.

Masyarakat Suku Naulu juga merupakan salah satu komunitas masyarakat adat di pulau Seram yang sampai saat ini masih memegang teguh nilai-nilai adat kearifan adat serta ritual-ritual adat yang masih berlangsung sampai dengan saat ini.

Masyarakat Suku Naulu dalam kelangsungan hidupnya sangat tergantung dengan wilayah hutan yang dimiliki berdasarkan kepemilikan marga masing-masing secara turun temurun,bahkan hutan adat sangatlah berarti sebab hutan adat juga rumah mereka,tempat kehidupan,rumah sakit bagi mereka dan pendukung kebudayaan mereka.

Dalam hutan adat terdapat juga tempat-tempat keramat,Negeri Lama,tempat mencari binatang buruan,untuk upacara adat kehidupan sehari-hari,tempat bahan-bahan untuk pembuatan rumah adat,tempat pekuburan leluhur,serta tempat tumbuh obat-obatan tradisional untuk kebutuhan kesehatan mereka.Juga terdapat burung-burung yang bulunya digunakan sebagai mahkota.

Para leluhur masyarakat adat Naulu juga menggunakan rambut manusia yang diambil dari kepala manusia yang dibunuh,serta terdapat binatang-binatang yang biasanya mereka gunakan tengkorak gerahamnya yang dipasang dalam rumah adat.Zaman dahulu leluhur mereka juga menggunakan tengkorak manusia yang telah dibunuh.

Bedasarkan uraian diatas dengan didasarkan pada pasal 18b ayat 2 dan pasal 28 ayat 1 (3) UU RI 1945 pasal 6 ayat (1) dan (2)UU RI Tentang Hak Asasi Manusia Putusan Mahkamah Konstitusi RI Nomor 35PUU-X/2012 yang memberikan perlindungan dan pengakuan terhadap hak-hak adat serta hutan adat.Dengan demikian masyarakat suku Naulu menolak operasi PT.Bintang Lima Makmur,”tandasnya.

Oleh : Aris.Wuarbanaran

About admin

Check Also

Sadli Lie : Penanaman Pohon Untuk Mencegah Metigasi dan Perubahan Iklim

AMBON,N25NWS.COM-Peliara pohon ini adalah salah satu tindakan yang diprakarsai oleh tim penggerak PKK Provinsi Maluku …