Home / Seni Dan Budaya / Musikalisasi Puisi Nyatanya Jadi Kelas Dunia
(Seniman Senior Merangkap Journalist , Rudi Fofit)

Musikalisasi Puisi Nyatanya Jadi Kelas Dunia

AMBON, N25NEWS.COM – Kolaborasi musikalisasi puisi yang lahir dari bumi Maluku rupanya telah mendapat respon positif pada blantika musik Indonesia bahkan tertenar di kancah dunia.

Bukanlah suatu Kebetulan, Musikalisasi Puisi ini tidak lahir saat perkembangan zaman baru melalui era digital yang kemudian berkembang. Melainkan Musikalisasi puisi, sudah ada sebelum Indonesia Merdeka,1945.

“Tentunya, ada harapan untuk itu dari berbagai pihak seniman Sabang sampai Merauke”.

Hal ini kemudian diakui oleh Salah Satu Seniman Senior, Anak Daerah Maluku, Rudi Fofit saat dikonfirmasi oleh N25NEWS.COM, Kamis (08/03/18) di sela-sela Acara Konferensi Musik Indonesia, Pada Taman Budaya Provinsi Maluku, Karang Panjang , Kota Ambon.

Menurut Fofit, Para seniman dari Sabang sampai Merauke bertemu dan berkumpul saja dianggapnya penting. Sebab pada pertemuan seperti ini sudah pasti ada dialognya guna untuk menentukan konten itu tentu berisi harapan kedepan.

Inti dari semua dialog ini kemudian ingin memuliakan musik Indonesia.

Dianggapnya pula sangat penting, sebab musiklah yang melahirkan Republik ini. “Indonesia Raya” sudah ada sebelum negara ada.

“Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya Untuk Indonesia Raya. Syair tersebut kita ketahui di tulis oleh WR Supratman Tahun 1928 dan itupun ialah sebuah puisi. Saat itu sumpah pemuda lahir karena sebuah puisi,” pungkasnya.

“Sebab dari sebuah puisi lahirnya sebuah sumpah, kata-kata kesenian, serta produk kebudayaan. Olehnya, ini merupakan tuntutan negara, sehingga BEKRAF hadir untuk membeckupnya,” tambahnya.

Potensi ini kemudian terlihat, hanya saja bagaimana caranya semua pelaku seni bisa meningkatkan profesionalisme dan kualitas karyanya. Katakan saja, penyanyi dan musisi bekerja sama untuk untuk mendapatkan karya -karya terbaik.

Jika ditanya, Sejauh ini ketenaran musikalisasi puisi sendiri sudah sampai pada tahap apa saja, apakah dia berhasil ?

Baca juga :   Ketika Nunusaku Hilang Harga Diri, Ini Yang Bakal Dilakukan Kalesang Maluku

Hal inilah yang di ungkapkan oleh Seniman Senior yang satu ini.

Katanya, “Secara lokal maupun nasional banyak musikalisasi puisi yang sudah berhasil. Diantaranya Penyanyi God bless, selanjutnya, Ahmad albar yang mengumandangkan lagu ‘panggung sandiwara’ karya Taufik Ismael. Selain itu, Frengky syahailattua yang mengumandangkan puisi-puisi yudistira. Terhadap Pesan lingkungan ‘Bayangkan Jika Semua Jalan Meninggalkan Mu dan Jarum Jam Mengikuti Badai,” Jabarnya.

Nah ini kemudian kolaborasi yang baik. Setiap masalah kehidupan mampu dilontarkan melalui sebuah lagu.

“Seperti halnya, peranan Dien Tamaela di radio untuk mengakhiri prasangka orang Jakarta terhadap orang Maluku,” tandasnya.

Dirinya berpesan bagi para musisi Kota Ambon, berkesenianlah dan bermusiklah dengan akar kebudayaan Maluku.

“Kalau mereka kemudian meniru Orang Amerika, maka mereka ada pada nomor urut ke sekian juta kali. Akan tetapi kalau mereka menggali nya dari Maluku maka mereka akan ada pada nomor 1 dan tidak ada duanya,” pesannya.

“Mengikuti tren Bangsa Eropa, Korea serta Amerika maka mereka adalah ekor. Sebaliknya, jika mereka menggali musik ini dari dasar sebagai orang Maluku di jamin, mereka yang adalah musisi Maluku berada pada nomor satu,” tambahnya.

Sebelum menutup, Dikatakannya, belum terlambat. Kita punya genre yang sangat banyak, seperti musik blues, keroncong country. Dan musik Maluku dasarnya terkenal dengan country dan jazz.

“Demikian Orang Maluku sudah punya karya di dunia. tapi bagaimana tinggal di lanjutkan oleh anak muda jaman sekarang,” tutupnya.
(Amy Latuny)

About admin

Check Also

Bahasa Daerah Di Maluku Tengah Terancam Punah

AMBON,N25NEWS.COM – Perkembangan Pendidikan yang katanya jaman now, kini telah mengubah pola pikir yang keliru …