Breaking News
Foto nyanyian Siksikar jenis maroin di Ohoi Wearlilir

Nyanyian Adat Di Kepulauan Kei

N25NEWS.COM – Sebagai salah satu bentuk folklor, nyayian adat di Kei memiliki ciri pada umumnya terdapat pada nyanyian adat lainnya yakni sebagian besar penciptanya tidak diketahui lagi karena nyanyian adat tersebut telah dipakai dan diwariskan lebih dari kira-kira 8 (delapan) generasi. Namun asal muasal nyanyian adat tersebut dapat ditelusuri dari unsur sejarah yang termuat di dalamnya Sebagai contoh wawar kerbau siuw yang isinya menceritakan pembagian kerbau sebagai lambang pembagian tugas dan fungsi anggota-anggota kelompok Ur Siuw.

Nyanyian ini sudah turun temurun dinyanyikan masyarakat Kei, terkhusus kelompok Ur Siuw, dalam acara-acara adat. Pencipta wawar kerbau siuw tidak diketahui lagi namun dapat diketahui dengan pasti bahwa wawar kerbau siuw diciptakan sesaat setelah keputusan yang diambil bersama dalam suatu peristiwa yang terjadi di siran siryem, Ohoi Elaar Lamagorang.

Nyanyian lainnya dalam kesenian tradisional di Kei merupakan hasil karya leluhur bedasarkan pengalaman serta interaksinya dengan alam, Tuhan pun manusia. Misalnya lagu-lagu yang mencurahkan duka, sukacita, nasihat dan pujian terhadap pembesar, dan lain sebagainya.

Pengangkatan raja-raja juga turut mengilhami terciptanya nyanyian adat untuk menunjukkan kebesaran raja yang diangkat serta memberikan nasehat agar manjadi raja yang arif dan bijaksana dalam memimpin rakyatnya.

Demikian pula dengan penyebaran hukum adat Larvul Ngabal serta penyebaran kekuasaan dua kelompok masyarakat besar di Kei yakni Ur siuw dan Lor Lim di seluruh daratan Kei dibuktikan dengan adanya nyanyian adat tentang peristiwa tersebut.

Seiring dengan perkembangan zaman yang menuntut manusia untuk mengikutinya, generasi Kei tidak sedikit yang mengambil peluang mengenyam pendidikan tinggi dengan jalan hidup merantau di tanah orang.

Sejak berdirinya Universitas Pattimura Ambon tahun 1962, banyak anak-anak Kei yang meninggalkan kampung halamannya untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi.

Selain di Ambon, banyak pula yang pergi ke luar Maluku mulai dari Sorong bahkan hingga ke tanah Jawa. Hal ini turut menginspirasi para orang tua membuat lagu yang berisikan pesan-pesan bijak bagi anak-anak Kei yang hidup di perantauan agar tidak melupakan asal-usulnya sebagai anak Kei, selalu mengingat ajaran orang tua dan budayanya yang berlandaskan hukum adat Larvul Ngabal dan tidak serta merta menjadi orang yang sombong dan lupa diri.

Banyak pula anak-anak Kei yang merasa sedih harus meninggalkan kampong halaman dan orang tua demi mengejar cita-cita dan membangun masa depan yang lebih baik hingga pada akhirnya terdapat nyanyian adat yang mengisahkan kepiluan hati mereka ketika pergi dan kerinduan mereka untuk dapat segera pulang dan berkumpul dengan keluarga.

Masuk dan berkembangnya agama di Kepulauan Kei turut mempengaruhi kebudayaan masyarakat Kei termasuk nyanyian adat.

Nyanyian agama berbahasa Kei paling banyak ditemukan dalam upacara agama Katolik. Pada tanggal 13 Juli 1889 seorang penduduk Langgur bernama Maria Sakbau menjadi orang yang pertama menerima agama Katolik yang ditandai dengan prosesi permandian.

Dari peristiwa tersebut penduduk Langgur mulai menerima agama Katolik. Misisonaris penyebar agama di Kepulauan Kei dari Eropa mempelajari bahasa Kei untuk kelancaran komunikasi dengan penduduk lokal dengan maksud mempermudah penyebaran ajaran agama itu sendiri. Langkah awal ini kemudian diikuti dengan menggunakan bahasa Kei dalam berbagai kegiatan keagamaan.

Langkah ini dimaksudkan agar ajaran yang diberikan dapat diterima dengan penuh penghayatan dan pemahaman sehingga menyatu dengan penduduk lokal pemeluk agama Katolik. Penggunaan bahasa Kei dalam ajaran agama Katolik kemudian disahkan dengan dicetaknya buku-buku berupa Injil, buku Pengajaran Agama, Buku Nyanyian Rohani dan Buku Doa-doa Harian pada tahun 1921 di Belanda.

Upacara agama Katolik dilaksanakan dengan menggunakan lagu-lagu berbahasa Kei yang apada awalnya hanya dinyanyikan oleh paduan suara dan lambat laun akhirnya dibawakan oleh umat Katolik secara spontan sebagai tanda kepemilikian bersama.

Nyanyian adat di Kei tercipta dari berbagai peristiwa, dan nyanyian-nyanyian ini kemudian berkembang di tengah-tengah masyarakat dan bahkan beberapa menjadi tad yakni bukti yang diyakini sebagai bukti yang otentik dari sebuah kisah.

Sesuai isinya, terdapat beberapa bentuk nyanyian adat di kepulauan Kei yakni ngel-ngel, wawar, baut, atnanit, maroin, dan soryat yang hingga kini masih dijumpai dalam budaya masyarakat Kei.

  1. Ngel-ngel

Ngel-ngel adalah sebuah nyanyian adat yang menggambarkan suatu peristiwa yang dialami seseorang atau sekelompok orang yang mengandung makna historis. Ngel-ngel berasal dari kata ngel (ngelan) yang artinya ‘bagian”.

  1. Wawar

Wawar adalah sebuah Nyanyian adat yang mengisahkan suatu peristiwa heroic atau keperkasaan seseorang atau sekelompok orang. Wawar disebut juga walar. Orang Kei biasa mengatakan siksikar wawar. Sikar artinya ‘menyanyi’ sedangkan wawar artinya bercerita dalam lagu.

  1. Baut

Baut adalah sebuah nyanyian adat yang melukiskan kebesaran seseorang atau suatu marga. Dapat juga dinyanyikan untuk menerima pembesar. Baut dapat juga dinyanyikan dalam adat yanur mangohoi.

  1. Atnanit

Atnanit adalah nyanyian adat yang menggambarkan tentang kebesaran seseorang atau sekelompok orang sekaligus memberikan nasehat sesuai kebesarannya.

  1. Maroin

Maroin berasal dari kata raron yang artinya ‘tangisan’. Ron itu sendiri berarti ‘menangis’. Maroin adalah nyanyian adat yang mengandung ungkapan rasa kesedihan dan penyesalan. Biasanya pelantun lagu ini sangat menjiwai isi ratapannya sehingga menimbulkan rasa empati pada para pendengar hingga mereka turut menangis tersedu-sedu.

  1. Soryat

Soryat adalah kagu adat yang melukiskan suasana hati yang gembira dari seseoran atau sekelompok orang. Bentuk nyanyian adat ini biasanya dinyanyikan pada acara atau suasana kegembiraan yang dialami banyak orang.

Nyanyian adat di Kepulauan Kei kerap ditampilkan dalam acara-acara adat seperti pelantikan raja Ratschaap, penyambutan tamu, pernikahan, dukacita dan pelaksanaan maren.

Sebagai salah satu bentuk sastra lisan, nyanyian adat memiliki fungsi antara lain sebagai sumber sejarah lokal, sebagai pengawas norma-norma yang berlaku dalam masyarakat serta sebagai sarana pendidikan bagi generasi muda Kei.

Adapun nilai-nilai yang pada umumnya terkandung dalam nyanyian-nyanyian adat di kepulauan Kei antara lain nilai budaya, nilai religius, nilai historis, nilai sosiologis dan nilai moral.

Editor :Redaksi

Sunber   Jacquelin Pattiasina   Peneliti BPNB Maluku

 

About admin

Check Also

Kota Kreatif Adelaide Dukung Ambon jadi UNESCO City Of Music

AMBON,N25NEWS.COM – Upaya Pemerintah Kota Ambon melalui Ambon Music Office untuk mendaftarkan kota ini sebagai …