Nyata, Keganasan Garuda Di Pulau Buru Jadi Simbol Negara

N25NEWS.COM – Sejak duduk di bangku sekolah, baik Sekolah Dasar maupun Menengah, apa yang kemudian kita ketahui mengenai keaslian sosok burung sakti yang kemudian di gunakan sebagai lambang negara RI ?

Banyak mitos yang kemudian mengungkap bahwa, sosok burung sakti yakni Garuda hanyalah gambaran perjuangan dan sosoknya tak nyata.

Bahkan ada wiilayah seperti pulau Jawa dan Bali, yang mengklaim bahwa sosok burung Garuda merupakan milik pulau Jawa dan Bali yakni rajawali Jawa dan rajawali Bali.

Tetapi, jika kita menitikberatkan pada sejarahnya, kita bakal dapat jawabannya.

Rupanya, Sosok Garuda yang dikenal sebagai Simbol Kenegaraan merupakan pemangsa manusia ialah sosok yang nyata kepunyaan orang Maluku. Tepatnya pada Kabupaten Buru Selatan.

Keganasan Burung Garuda melalui suaranya merupakan ancaman maut yang teramat mengerikan, namun sekarang, suara itu terdengar merdu dan di sambut gembira oleh para penduduk setempat.

Tatkala, ketika Pulau Buru belum dibagi menjadi Kabupaten Buru dan Kabupaten Buru Selatan, terdapat sebuah negeri yang damai karena terletak di sebuah teluk kecil dan hamparan pasirnya yang begitu luas dan indah. Sebut saja Desa Tifu.

Waktu terus bergulir, beberapa tahun kemudian, para tetua dan tokoh masyarakat sengaja memindahkan pusat pemerintahannya di sebuah dusun kecil yang bernama Leksula, yang kemudian berkembang menjadi negeri dan kota pelabuhan di Kabupaten Buru Selatan.

Walau telah lama ditinggalkan, namun, Negeri Tifu, ternyata menyimpan kenangan yang tak mudah untuk dilupakan.

Tak jauh dari Negeri Tifu, terdapat sebuah gunung yang jika dilihat dari pelabuhan menyemburatkan warna merah keemasan.

Disanalah, terdapat dua goa yang letaknya berjauhan antara satu sama lain yang dihuni oleh sepasang burung ganas yang dikenal dengan sebutan burung garuda. Sepertinya itulah yang menyebabkan kenapa gunung tersebut akhirnya dikenal dengan sebutan Gunung Garuda.

Tak ada yang bisa pungkiri, burung ini merupakan burung elang terbesar yang terdapat di Pulau Buru, sehingga, jika tengah mengembangkan kedua sayapnya ketika tengah melewati Negeri Tifu, maka, hampir sebagian negeri pun menjadi gelap karenanya.

Sebagai burung yang paling ganas di antara para burung pemangsa lainnya, maka, garuda itu memiliki kaki yang pendek kokoh sehingga mampu melumpuhkan mangsanya dengan cepat dan cakar yang teramat tajam untuk mencengkeram mangsanya.

OIeh sebab itu. kedua garuda itu mampu membunuh mangsangnya dengan cara yang sangat cepat dengan mengandalkan perpaduan antara kecepatan, kekuatan dan paruh yang demikian tajam. Sementara, bulu dan sisiknya yang tebal, mampu melindungi seluruh tubuhnya dari gigitan atau sengatan binatang lain yang tengah dilahapnya.

Yang paling rajin mencari mangsa adalah burung betina. Jika tak mendapatkan mangsa berupa ikan di lautan nan luas, maka, manusia yang menghuni daerah yang jauh dari Negeri Tifu pun menjadi sasarannya.

Disisi lain, jika ada kapal asing lewat di daerah itu, dengan cepat, Si garuda betina pun keluar dari sarangnya diiringi dengan suara mengaum bagai halilintar, ia langsung menyerang dengan ganasnya.

Akibatnya, dalam waktu yang demikian singkat, seisi kapal dan muatannya pun berpindah ke sarangnya. Jika sudah begitu, tak ama kemudian, terdengar suara yang menggetarkan bumi, sebagai pertanda kegembiraan dari garuda betina ingin mengabarkan kepada seisi alam akan keberhasilannya dalam berburu di hari tu.

Jika sudah begitu, biasanya, garuda betina tidak akan keluar dari sarangnya. Kedua garuda itu hanya menghabiskan makanan yang ada.

Berita tentang keganasan kedua garuda itupun telah menyebar kemana-mana. Bahkan, sampai ke negeri Tiongkok. Sebagai manusia biasa, para pelaut Tiongkok pun gentar. Tetapi apa daya, mereka tetap harus melewati daerah itu. Akhirnya, mereka pun mencari cara yang terbaik untuk menyingkirkan kedua burung pemangsa itu. Tekad mereka pun bulat, garuda atau mereka yang harus hancur.

Ketika waktu pelayaran tiba, tepatnya, sejak kapal meninggalkan pelabuhan, mereka menemukan cara yang tepat dalam menghadapi keganasan sepasang garuda itu. Mereka membekali diri dengan tombak sepanjang tiga meter. Bahkan dalam pelayanan sekali ini, mereka membawa persenjataan sampai tiga kali lipat.

Ketika kapal mulai memasang Iayar, sang nakhoda pun berkata; “Ingat menjelang Negeri Tifu, maka, semua tombak harus segera dipanaskan. Tidak ada seorang pun yang ada di bawah, semua harus ada di geladak.

Pembagian tugas pun Iangsung dilaksanakan. Ada yang mempersiapkan perapian untuk membakar tombak, dan ada pula yang bertugas membagikan kepada yang membutuhkan Waktu terus berjalan,

Ketika kapal mulai memasuki perairan Negeri Tifu, kewaspadaan pun Iangsung ditingkatkan. Semua mata tombak yang ada di kapal langsung dibakar. Seluruh awak kapal sudah berada di geladak. Mereka menunggu komando dan sang nahkoda.

Bersamaan dengan mata tombak yang memerah karena dibakar, tendengar suara memekakkan telinga diiringi dengan kegelapan akibat matahari tertutup oleh bentangan sayap kedua pemangsa itu. Dan tak ama kemudian, kaki sepasang burung itu langsung menerkam mangsa yang ada di dekatnya.

Namun, sekali ini, sepasang garuda itu menghadapi perlawanan yang cukup menggetarkan. Betapa tidak, semua awak kapal menyongsong kedatangannya dengan melempar dan menusukkan tombak yang membara.

Walau menderita kesakitan yang teramat sangat, agaknya, sepasang garuda itu enggan untuk melepaskan mangsanya dengan begitu saja. Bahkan, keduanya sempat mengibaskan sayapnya secara bengantian ke tiang kapal. Akibatnya, tiang kapal pun roboh dan menimpa beberapa awak yang ada di dekatnya.

Perlawanan para awak kapal membuat suasana menjadi amat ingan. Teriakan dan kepakan sayap serta raungan suara sepasang garuda yang mulai kesakitan akibat tusukan dan lemparan tombak yang membara mulai membakar bulu-bulunya, membuat bumi seolah tenguncang.

Namun, beberapa saat kemudian, yang tendengar hanyalah raungan kesakitan. Ya, sayap tak lagi bisa mengepak, sepasang kaki yang kokoh pun seolah tak mampu lagi menyangga tubuhnya yang berat dengan membawa luka di sana-sini senta kepakan sayap yang tak lagi seperkasa dulu, sepasang garuda itupun mulai mencoba untuk menjauhi kapal.

Tak lama kemudian, tampak kedua burung itu jatuh di tepi pantai Negeri Tifu. Dan bangkainya menjadi “Tanifal” atau sebidang daratan berpasir putih halus. Dan daratan yang dikelilingi air laut di tepi pantai Tifu ini akan Nampak bila terjadi air surut. Bahkan, kedua biji mata burung itupun berubah menjadi dua buah batu besar.

Seiring dengan penjalanan sang waktu, akhirnya, batu besar yang banyak ditumbuhi rumput itu menjadi dua buah pulau kecil nan indah dan dikeramatkan.

Kini, di daerah tersebut tak ada lagi burung garuda pemangsa, yang ada hanyalah burung goheba atau burung elang yang banyak diyakini masyarakat sebagai keturunan dari burung pemangsa tadi.

Betapa tidak, jika di langit tampak banyak burung goheba beterbangan sambil terus berbunyi dan mengelilingi Negeri Tifu. maka, sudah dapat dipastikan betapa nelayan akan mendapatkan hasil yang berlimpah ruah.

Inilah keaslian dari Keganasan Garuda yang kemudian di usulkan oleh Founding Father NKRI, DR. Johanes Leimena yang kini menjadi Simbol Negara Kita.
(Amy Latuny)

 

 

Check Also

Lebih Angker dari ‘Desa Penari’, Pulau Maluku Ini Jadi Tempat Berkumpulnya Iblis Sedunia

AMBON,N25NEWS.com-Selain kaya akan sumber daya alam yang melimpah, Indonesia ternyata memiliki segudang cerita mistis di …