Breaking News
Amirudin Guru pada SMP Negeri 14 Ambon

Polda Di Nilai Lambat Tangani Kasus Kekerasan terhadap Guru Amirudin

AMBON,N25NEWS.COM-Lembaga pendidikan dilecehkan dengan ulah brutal orang tua murid yang telah menganiyaya seorang guru hingga tangannya patah, aneh sebagai penegak hukum Polda Maluku terkesan mendiam diri dan belum melakukan langkah-langkah hukum.

Pasalnya sejak.kejadian yang menimpah Amirudin Guru pada SMP Negeri 14 Ambon, pihak sekolah telah melaporkan ke SPKT II Polda Maluku dengan nomor laporan TBL/01/11/2019/Maluku/SPKT Polda Maluku, tertanggal 18 Febuari 2019 yang diterima Kasiaga SPKT Brigpol Arif Yudi Asmanto, hingga saat ini pelaku belum dipanggil untuk dimintai keterangan lebih lanjut.

Berdasarkan laporan yang disampaikan Kepsek SMP Negeri 14 Ambon Samsul Bahri Duwila ke SPKT Polda Maluku menerangkan, bahwa pada, Jumat(8/2) telah terjadi penganiyaan yang dilakukan didalam lembaga pendidikan.terhadap korban guru Aminudin yang dilakukan orang tua murid atas nama Randin Rustam Arief.

Ironisnya sejak surat laporan SPKT dikeluarkan, hingga saat ini belum pemanggilan tersangka untuk dilakukan proses hukum untuk dilakukan proses Berita Acara Pemeriksaan (BAP) baik tersangka maupun korban terhadap tindak pidana penganiayaan.

Terhadap lambatnya penegakan hukum yang dilakukan pihak penyidik Polda Maluku, membuat amarah para guru dibawa naungan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Maluku yang mengancam akan melakukan protes dalam bentuk aksi demo didepan Markas Besar (Mabes) Polda Malulu.

Sayangnya niat tersebut sempat diredah oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) PGRI Maluku untuk bisa sampai pihak kepolisan melakukan langkah-langkah hukum sesuai perundang-undang yang berlaku di NKRI.

“Kemarin beta didesak oleh guru-guru di Maluku di kota Ambon melakukan aksi demo, tapi beta tahan-tahan saja dolo, tapi kita LBH PGRI Maluku tetap siap untuk mendampingi korban, sesuak kolidor hukum karena memang punya kewajiban untuk melindungi korban”akui anggota LBH PGRI Maluku Basirun pada koran ini vie selulernya belum lama ini.

Dikatakan, secara aturam pihak lembaga SMPN.14 Ambon telah melaporkan kejadianya kepihak Polda Maluku untuk dilakukan penagakan hukum. Tapi kenapa belum ada langkah pemanggilan terhadap tersangka.

Menurutnya, tidak sewajarnya seorang guru diperlakukan dengan tidak wajar,.apa lagi itu dilakukan didalam lembaga pendidikan, kalau pun ada kehilafan dari seorang yang menegur siswa atau apapun, itu hanya dalam bentuk edukasi, agar dapat melahirkan karakter dari siswa itu sendiri.

Baca juga :   SUPM Kembali Wisudakan 145 Lulusan

Sementara itu Kepsek SMPN 14 Ambon yang dihubungi via selulernya, juga mengakui kalau telah terjadi penganiayaan terhadap gurunya yang dilakukan orang tua murid didalam lembaga pendidikan.

“Emang betul ada penganiayàan terhadap guru saya, tapi saat saya tidak liat langsung, hanya mendengar dari yang lain.karena badan tidak enak,”akui kepsek.

Ia juga mengakui kalau gurunya yang mendapat penganiayaan, kini kondisi tangan kanannya patah.

Terhadap kronologis kejadian, korban guru Aminudin yang dihubungi via selulernya menjelaskan, bahwa apa yang dilakukan terhadap siswa yang bersangkutan hanya dalam bentuk spontanitas, lantaran bukan sebagai wali kelas ataupun mengajar padar kelas siswa tersebut.

“Saya ini guru mengajar di kelaa IX bukan.di kelas VIII yang siswi itu.tempati, sehingga langka teguran dengan cara menepuk bahu siswanya, itu hanya berupa spontanitas biasa untuk membina siswi kearah yang lebih.baik.

Diceritakan, kalau saat kejadiannya dirinya hendak kembali pulang setelah melakukan pemantapan siswa,.karena mengajar siang.

Saat hendak pulang korban melibat siswi tersebut selama dua jam hendak ingin masu ruang kelas.

Namun hal itu ditegur korban dan melarang siswi masuk dan memberi hukuman dan meminta guru jaga lainnya untuk bisa memperhatikan.

Akan tetapi.saat guru menyapa bahunya, siswanya langsung nagis.dan mengamcam untuk lapor orang tuamya.

Jelang beberapa menit kemudia,.dengan mengendarai kenderaan langsung masuk ke halama  sekolah, tanpa berkata-kata langsung menendang korban secara berulang dan memukul korban secara brutal tanpa ada perlawanan sedikitpun dari korban.

Sampainya dirumah,  korban merasa nyeri dengan tangan korban dan setelah dicek di RS Dr Latumeten dari hasil rongseng, ternyata mengalami patah tulang.

Meskipun sudah ada permintaan maaf. tetapi secara kelembagaan dan korban sudah mengalami patah tulang, kejadian tersebut harus tetap ditindak lanjuti secara hukum.

Reporter : Gali M

Editor  : Redaksi

About admin

Check Also

Sapteno Maju Lagi Pada Pemilihan Rektor 2020

AMBON,N25NEWS.COM-Suksesi pemilihan Rektor Universitas Pattimura (Unpatti) masih satu tahun lagi,namun Senat Unpatti saat ini lagi  …