Polisi Kurang Jeli Tetapkan Tata Ibrahim Tersangka Dalam Kasus BNI

AMBON,N25NEWS.com – Penyidik Ditreskrimsus Polda Maluku dinilai kurang jeli menetapkan,Tata Ibrahim, salah satu pegawai BNI cabang Makassar, sebagai tersangka baru dalam kasus pembobolan dana BNI Cabang Ambon, karena diduga turut membantu Faradiba Yusuf (FY) eks kepala pemasaran KCU BNI Ambon. Pasalnya hubungan antara Tata Ibrahim dengan FY, tidak ada hubungan dengan pembobal dana BNI, selain sebatas rekan bisnis dalam jual beli

hasil bumi berupa cengkih.

Bahkan dari investasi modal, Tata Ibrahim, sebesar Rp 1 miliar yang ditransfer ke FY, dengan keuntungan sebesar Rp 100 juta lebih, hanya sebatas bisnis usaha antara FY dan Tata Ibrahim, sehingga keliru kalau penyidik langsung menetapkan Tata Ibrahim sebagai tersangka yang turut terlibat bersama dengan FY.

Kepada awak media di Ambon, Selasa(28/4) Hamdani Laturua selaku kuasa hukum Tata Ibrahim menegaskan, bahwa kalau kliennya sama sekali tidak tahu menahu soal kasus pembobolan dana BNI yang melibatkan tersangka FY, karena hubungan antara Tata Ibrahim dengan FY hanya sebatas bisnis usaha.

Dijelaskan, awal perkenalan Tata Ibrahim dengan FY berlangsung pada bulan Febuari tahun 2018, dimana keduanya sama-sama terlibat dalan satu kegiatan pelatihan Brevet-Kredit di BNI Makasar yang berlangsung di Hotel Kolonial.

Dimana pelatihan diikuti para pimpinan BNI wilayah Timur Indonesia, khusus Provinsi Maluku diwakili FY sebagai pimpinan Kantor Cabang Pembantu (KCP) BNI Waihaong Ambon, termasuk, Teki, dari KCP BNI Saumlaki dan Ischak, KCP BNI Seram Bagian Barat (SBB).

“Jadi dalam kegiatan pelatihan, klien saya dan FY berada dalam satu kelas yang tempat duduknya hanya bersebelahan, sehingga tentua sesama rekan BNI dan teman pelatihan, pasti saling berkomunikasi, baik itu berkaitan dengan materi pelatihan maupun hal-hal yang berkaitan dengan bisnis pribadi masing-masing, “ujarnya.

Selaku tuan rumah BNI Makassar, Tata Ibrahim, tetap selalu melayani peserta dengan baik, FY pun akhirnya memperkenalkan dirinya, sebagai pegawai BNI yang memiliki usaha cukup banyak dan sukses, antara lain Usaha jual-beli Hasil Bumi Cengkeh, Usaha Tenda, Rumah Makan dan Salon.

Bahkan kata Laturua, sempat kliennya ditawarkan FY berbisnis jual beli cengkeh dengan berinvestasi modal agar dapat merasakan hasil bisnisnya, karena kata FY, bisnis cengkeh
prosesnya cepat dan untungnya lumayan. Namun saat itu hanya baru sebatas tukar – menukar informasi. Sebab saat itu kliennya belum menyatakan ketertarikan untuk berbisnis dengan FY.

Selanjutnya setelah kegiatan selesai dan masing-masing kembali ke daerahnya masing-masing, jelang beberapa waktu kemudian, sesering kali FY menghubungi Tata Ibrahim lewat ponselnya untuk meminta bisa bergabung dalam bisnis jual-beli cengkeh, lantaran sering dihubungi tepat dibulan Oktober 2018, Tata Ibrahim akhirnya menerima ajakan FY seraya berkata kepada hanya coba-coba dulu, siapa tau cocok nanti.

“Awalnya sebelum menerima tawaran FY, klien saya, terlebih dulu mencari informasi bisnis FY lewat Ibu Irma Aziz yang juga salah satu pimpinan KCP BNI di Makasar, sebab yang bersangkutan lebih dulu kerja sama dengan FY berinvestasi modal sebesar kurang lebih Rp 1 miliar, tepat tanggal 16 Oktober 2018 investasi awal kliennya sebesar Rp 1 miliar yang ditransfer lewat rekening CF Farel milik FY dengan nomor rekening 614028725,”bebernya.

Modal tersebut kata Laturuan, untuk membeli 10 ton cengkeh dengan harga sebesar Rp 100 ribu per Kg dan akan dijual dengan harga Rp 110 ribu per Kg, satu tahun kemudian tepatnya 27 September 2019, bisnis keduanya lancar sehingga modal beserta keuntungan sebesar Rp 100 juta lebih dikembalikan FY.

Kepercayaan Tata Ibrahim pun akhirnya kembali mempercayakan FY dengan memberikan investasi modal yang cukup besar, kendati masih sekitar 100 ton atau sekitar Rp 9,3 miliar modal yang belum dikembalikan. Tapi FY kembali mengajukan penambahan modal 500 ton dengan jumlah sebesar Rp 46 miliar dan keduanya sebesar Rp 7.440 miliar lewat rekening BCA atas nama Soraya Pelu sebesar Rp 4,650 miliar lebih dan Rp 7,790 miliar lewat rekening BNI atas nama FY.

. Namun karena waktu itu karena dana Bpk Tata Ibrahim, terbatas sehingga Bpk Tata Ibrahim hanya mengirim uang/ modal untuk harga 80 (delapan pulih) Ton saja, uang sebesar Rp. 7.440.000.000,- (tujuh milyar empat ratus empat puluh juta rupiah) yang di transfer sebanyak 2 (dua) kali ke Rekening.

Anehnya, saat jatuh tempo pembayaran FY sudah susah dihubungi, baik lewat selulernya maupun WhatsApp, tiba informasi kalau FY sudah ditangkap karena melakukan kejahatan.

“Saat mendengar FY ditangkap, klien saya sangat stress dan panik. Karena modal yang diberikan sebesar Rp 13.440.000.000,- ( tiga belas milyar empat ratus empat puluh juta rupiah) belum dikembalikan oleh faradiba Yusuf.

Akhirnya karena FY ketahuan melakukan kejahatan dan selalu transaksi dengan Tata Ibrahim, maka yang bersangkutan pun turut diperiksa, meskipun hanya menempatkan modalnya kepada FY dalam hal berbisnis jual-beli cengkih.

“Selama ini klien saya tidak pernah menaruh curiga dengan FY bisa melakukan kejahatan, sebab selama ini klien saya tidak pernah secara langsung datang untuk memeriksa bisnis yang bersangkutan di Ambon, bahkan dirinya juga akan mengsomasi FY karena masih tersisa modal sebesar Rp 18.271.000.000 yang belum dikembalikan,”cetusnya.

Terhadap kasus tersebut lanjut Laturua, secara internal BNI Makassar kliennya sudah diperiksa satuan internal audit di BNI wilayah makssar dan tidak ada kejanggalan kas kantor BNI, apalagi selisih uang kantor BNI. Karena modal bisnis Beliau adalah modal pribadi dan patungan dengan teman bisnis.

Bahkan sudah kurang lebih 10 kali diperiksa selaku saksi di Krimsus polda Maluku dan kemudian ditetapkan sebagai tersangka setelah dilakukan pemeriksaan yang ke-11, sehingga hal ini sangat disayangkan justru bilau juga merupakan korban dari FY atas modal usaha dan sama sekali melakukan kejahatan bersama.

Check Also

Masyarakat  Apresiasi  Langkah Pengadilan dan Kejaksaan Negeri Masohi Menyidangkan  Kasus Pasanea

AMBON,N25NEWS.com  –  Sejumlah anggota masyarakat saat di temui dan di minta keterangan  mengapresisasi langkah yang …