Home / Pendidikan / Problematika Warnai Buruknya Mutu Pendidikan Di Maluku
Mahasiswa Fakultas Hukum, Sekaligus Aktivis Akademis, Jandri Tuhumury Dalam Pandangan Pendidikan Sebagai Jawaban Masa Depan Maluku

Problematika Warnai Buruknya Mutu Pendidikan Di Maluku

AMBON,N25NEWS.COM – Mutu Pendidikan yang terjamin diilhami sebagai jawaban masa depan Maluku kini hanya diwarnai dengan sejumlah problematika politik dan mencari keuntungan di kalangan pejabat daerah.

Pasalnya, pendidikan merupakan faktor utama suram atau cerahnya masa depan suatu bangsa maupun daerah termasuk di Provinsi Maluku.

Selaku Mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Pattimura Ambon, sekaligus aktivis akademis, Jandry Tuhumury mengungkapkan Pemerintah melalui berbagai upaya telah melakukan banyak perubahan wajah pendidikan bagi anak bangsa, mulai dari perbaikan gedung serta sarana prasarana sekolah, peningkatan Dana BOS, sampai kepada Kartu Indonesia Pintar yang menjadi salah satu program unggulan pemerintahan Jokowi-JK.

Namun, Ironisnya berbagai kasus yang terjadi di Maluku justru merusak citra pendidikan itu sendiri. diantaranya kasus korupsi Dana Alokasi Khusus (DAK) bidang pendidikan Kabupaten Buru Tahun 2007 sebesar Rp.10,75 Milyar, kasus korupsi DAK bidang Pendidikan kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) Tahun 2008 sebesar Rp.13 Milyar , Kasus Korupsi DAK Bidang Pendidkan kabupaten Maluku Tenggra Barat (MTB) tahun 2010 sekitar Rp.7,2  Milyar. hal-hal ini merupakan suatu langkah mundur terhadap kemajuan maluku sebagaimana harapan kita bersama.

Persoalan lain, Kualitas Tenaga Pendidik (Guru) masih jauh dari harapan. Hal ini nampak pada saat Uji Komptensi Guru Provinsi Maluku pada 30 Juli 2012 yang justru membuat Maluku menempati terbawah dari Provinsi Lain di Indonesia. Hal ini mendorong Pemerintah harus lebih selektif dalam proses Rekruitmen Guru, serta peran Perguruan Tinggi dalm menciptakan sumber daya pendidik yang memiliki daya saing .

“Menciptakan manusia yang berkualitas dan kompeten adalah langkah praktis menuju masa depan Maluku yang berkelanjutan . hal ini sudah harus di mulai dari sekarang, dengan cara membenahi sitem pendidikan yang cenderung mengeksploitasi Peserta didik (siswa) hanya sebagai objek, sehingga ruang-ruang pembelajaran menjadi kaku dan statis, siswa di ajarkan hanya untuk menguji kemampuan mereka sebatas nilai raport yang di perjuangkan di setiap semester,” tandasnya.

Namun, apa makna dari nilai yang di dapatkan di abaikan. Alhasil, siswa hanya menjadi “ Budak Intelektual “ yang tak berkepribadian unggul.

Di lain sisi Jandry menyebutkan salah satu “pembenaran kebiasaan” buruk di lakukan hampir  semua sekolah di Maluku adalah siswa yang berprestasi di jadikan sebagai “sasaran dagang” setiap akhir semester. Yakni penjualan bazar dalam bentuk apapun kepada juara kelas yang harganya harus berbeda dengan siswa lainya. pengabaian praktek semacam ini justru membingungkan. siswa yang seharusnya mendapat Reward karena prestasi mereka, justru berbanding terbalik memberi Reward ke pihak sekolah dengan “Menguangkan” Prestasi Mereka .

Baca juga :   Jasa Pahlawan di Isi Dengan Prestasi dan Kerja Keras

“Memperbaiki wajah pendidikan Maluku harus di mulai dengan kesadaran bersama  akan pentingnya menata masa depan Bumi Raja-Raja ini,”katanya.

Terkait persoalan ini, Pemerintah Provinsi serta Jajaranya harus menerapkan kebijakan yang Pro Rakyat, agar terjalin sistem pendidikan yang Partisipatif dengan peran semua elemen Masyarakat .

“Tak kalah pentingnya ialah, pendidikan di Maluku juga harus memperkenalkan nilai-nilai Konteks Ke-Malukuan yang dapat di terapkan melalui mata pelajaran “ Muatan Lokal“ yang dapat menjadi instrumen penting menyadarkan mereka bahwa pendidikan tak hanya berbicara soal Kompetisi, tetapi juga Kolaborasi dalam semangat adat budaya  Pela Gandong Maluku harus di majukan di mulai dari dunia pendidikan,” Tandasnya.

Hal ini selaras dengan tema peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) Tahun 2018 yakni “Menguatkan Pendidikan, Memajukan Kebudayaan” yang  pada tahun ini selama Sepekan, akan di isi dengan berbagai kegiatan memperingati Hardiknas pada 2 Mei 2018 Mendatang.

Tema yang sangat sederhana namun memiliki dorongan perubahan yang kuat ini, dapat menjadi semangat pergerakan kita bersama, Pendidikan yang kuat adalah pendidikan yang memiliki Sumber Daya yang Berkualitas, Fasilitas yang Mendukung, serta Kurikulum yang baik.

Ketiga hal ini dapat terlaksana dengan peran aktif dan kesadaran bersama semua masyarakat termasuk masyarakat maluku jika ingin masa depan negeri kita ini menjadi tertata dengan baik.

Di tambahkannya, Momentum Pilkada Maluku pada Juni 2018 ini juga dapat menjadi Langkah Awal yang  harus di mulai dengan Komitmen para Kandidat agar jika Kelak di percayakan ada di puncak tahta, Maka pendidikan adalah sektor yang paling sentral yang harus di benahi, demi memberantas kebodohan dan keterbelakangan di Maluku ini.

“Kepedulian terhadap Pendidikan adalah solusi serta Jawaban permasalahan yang begitu kompleks di maluku, yang di mulai dari mencerdaskan generasi kita serta membentuk karakter dan kepribadian,” tuturnya.

Maluku yang kaya, warganya harus sejahtera, Maluku yang Maju, warganya harus Bersatu, Menuju Maluku yang Mandiri, Harus di Mulai dari diri sendiri.

Dengan demikian, Jawaban masa depan pendidikan di Maluku akan memenuhi salah satu tujuan Negara Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana tercantum dalam alinea keempat Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (yang selanjutnya disebut UUD NRI Tahun 1945).
(Amy Latuny)

About admin

Check Also

WAWALI Lantik 29 Kepsek Se-Kota Ambon

AMBON,N25NEWS.COM – Wakil Walikota (Wawali), Syarif Hadler melantik 29 Kepala Sekolah (Kepsek) yang antara lain …