Home / Opini / sejarah & Legenda / Sejarah Asal Usul Keluarga Wuarlela
Pulau Fordata Kecatamatan Yaru MTB

Sejarah Asal Usul Keluarga Wuarlela

N25NEWS.COM – Menurut cerita para Nenek Moyang  Marga Wuarlela berasal dari Kampung Makatian disebelah barat dari Pulau Yamdena.Mereka terdiri dari 1 Keluarga adik berkak yang berjumlah 8 orang mereka adalah Melarnaban anak tertua,Metanilaa,Borwatu,Kaloma,Lawlowi,Boringlewa,Ianmala dan saudara perempuan mereka Farakmasa.

Mereka semua hidup dan rukun bahagia bersama seluruh warga kampung Makatian,tetapi pada suatu saat kebehagiaan seluruh masyarakat Maktian tertaggu dengan adanya gangguan dari orang-orang hutan  dari pedalaman pulau Yamdena  dan serangan yang sangat menjijikan serta paling berbahaya adalah gangguan dari orang hutan yang bernama Seata Keya Weba (Seata Kaki Bisul).

Seata Keya Weba penuh dengan luka dan bisul dibadannya dan sangat bau busuk.Diceritakan pada suatu saat Seata Keya Weba pernah membujuk dan memaksakan beberapa orang dari penduduk kampung untuk menjilati luka-luka pada badanya itu.Peristiwa itu berlangsung cukup lama dan tidak dapat diatasi oleh penduduk kampung Makatian karena penduduk sangat takut kepada Seata Keya Weba.

Keadaan sukar  setiap hari yang menimbulkan rasa tidak aman dan damai dalam kampung maka suatu hari Melarnaban sebagai anak yang tertua memanggil adik-adiknya untuk mencari bagaimana mengatasi keadaan itu.Akhirnya keputusan yang diambil ialah alangkah baiknya mereka meninggalkan saja kampung Makatian dan mencari tempat lain yang lebih aman dan tenang untuk kehidupan selanjutnya.

Keputusan tadi tidak dapat dibatalkan oleh adik-adik dari Melarnaban bahkan mereka setujuh untuk meninggalkan kampung Makatian.Mereka mulai mempersiapkan diri untuk meninggalkan kampung tersebut.Diantara persiapan itu mereka merencanakan apabila meninggalkan kampung Makatian dengan membawa Harta mereka berupa Emas,alat angkutan dan perbekalan makanan.

Diceritakan bahwa untuk mencari harta emas,sungguh sangat sulit karena untuk mendapatkan emas itu didapat dari seekor ular naga yang tinggal di gunung.Ular tersebut kulit dan sisiknya penuh dengan emas.Sudah sekian kali mereka mencoba untuk mendapatkan emas dari ular naga tersebut tetapi selama itu usaha mereka sia-sia belaka.

Akhirnya pada suatu hari mereka mendapatkan akal,yaitu mereka harus mengorbankan saudara perempuan mereka satu-satunya Farakmasa sebagai umpan yang apabila nanti ular naganya lapar dan mencari makan ke mulut goa dan disaat itulah mereka bisa mendapat emas dari sisik dari ular naga tersebut.Dan usul tersebut diterima oleh semua adik-adik Melarnaban,walaupun mereka sangat mencintai Farkamasa

Setelah rencana ,mereka sudah matang,mulailah mereka mengantarkan Farakmasa ke gunung tempat ular naga itu berada.Saat Farakmasa,ada dimulut goa siap menjadi umpan sedangkan Melarnaban beserta adik-adiknya sembunyi disekitar goa dengan alat-alat seperti mencadu (cangkul) dan kapak.Pada saat itulah ular naga keluar memakan Farakmasa yang sudah berada di mulut goa.

Melarnaban dan adik-adiknya tanpa membuang kesempatan itu memukul sisik dan kulit ular naga dan mendapat hasil yang sangat banyak dan mereka juga berhasil memotong ekor ular naga emas itu. Selesai mengabil sisik dan kulit ular naga emas,mereka kembali ke kampung dengan hati yang sedi bercampur gembira karena saudari mereka Farakmasa sudah tiada.

Dari sisik dan kulit ular naga emas itu mereka meleburnya menjadi anting-anting dan manik-manik beberapa manik-manik tersebut ialah Emas Fangori,Emas Yaalwaar dan Emas Turnifmasa,ditamba ekor dari ular naga emas itu dan beberapa manik-manik lainnya yang mempunyai nama dengan jumlah yang cukup banyak kesemuanya dari emas-emas itu dimasukan  guci.

Rencana Melarnaban dan adik-adiknya untuk meninggalkan kampung Makatian sudah bulat.Pada malam sebelum mereka meninggalkan kampung Makatian Melarnaban mengumpulkan adik-adiknya dalam suatu acara adat untuk mengenang para moyang-moyangnya yang telah meninggal di kampung tersebut teristimewa saudari perempuan mereka Farakmasa yang telah menjadi mangsa ular naga emas

Sesudah acara adat selesai maka mulailah perpisahan dan perceraian antara keluarga Melarnaban dan adik-adiknya yang mau berangkat dengan penduduk kampung Makatian.Mereka berlayar dengan menggunakan perahu kepunyaan mereka seperti Wadal Bebun (Kulit kerang)dan Isu Bebun (Kulit Pinang) serta layarnya yang bernama Kulit Key.

Terjadilah perpindahan pertama kali sesuai keputusan pertama mereka berlayar menuju arah barat dan setelah beberapa hari lamanya mereka tiba disebuah pulau yang bernama Luan/Moa setelah mereka masuk pulau itu sudah ada penduduknya sehingga terjadi peperangan antrara penduduk pulau itu dengan Melarnaban den adik-adiknya.

Pada suatu saat itu nampaknya peperangan antara Melarnaban dan adik-adiknya dengan penduduk pulau itu dapat dipulikan,maka mereka meminta kepada penduduk asli untuk berunding, perundingan itu,mereka dapat beberapa keputusan yang turut disetujui oleh penduduk Luan/Moa.Keputusan itu antara lain untuk membuktikan bahwa siapa yang benar-benar memiliki pulau Luan/Moa.

Pada malam antara penduduk asli dan Melarnaban serta adik-adiknya kelaut dan mengucapkan kata-kata mereka masing-masing dan apabila siapa yang memperlihatkan kilat yang bercahaya menyerupai ular diatas pulau Luan/Moa merekalah yang berhak atas pulau Luan/Moa,sebelumnya beberapa adik-adik Melarnaban naik ke gunung secara sembunyi untuk menanam ekor naga mas

Pertarungan dilakukan ternyata cahaya kilatan berupa ekor ular naga adalah keluarga Melarnaban dan adik-adiknya,malam hari dari puncak gunung itu bagai kilat ular yang menyambar perahu-perahu pnduduk asli sehingga mereka sangat ketakutan dan hampir tenggelam.Akhirnya putusan penduduk asli bahwa  yang miliki pulau Luan/Moa adalah Keluarga Melarnaban dan adik-adiknya.

Kini pulau Luan/Moa sudah menjadi milik sah dari keluarga Melarnaban dan adik-adiknya dan mereka mulai menetap di pulau tersebut untuk mengelola dan mempertahankan hidup mereka beberapa tahun lamanya,namun karena pulau tersebut penuh dengan batu karang yang cadas membuat Melarnaban dan adik-adiknya kembali berencana meninggalkan Pulau Luan/Moa tersebut.

Perpindahan kali kedua dari Melarnaban dan adik-adiknya, sebelum mereka akan meninggalkan pulau Luan/Moa,mereka melakukan adat dan persetujuan bersama,malam mereka harus keluar  dari pulau tersebut dengan menaiki perahu-perahu mereka Wadal Bebun dan Isu Bebun serta layarnya Kulit Key,menujuh sebelah utara dan pelayaran kedua itu mereka tiba di pulau Kei Tnebar (Tanimbar Kei).

Dipulau itu belum ada penduduk dan perbekalan mereka mulai kurang terutama air yang sudah habis,kebetulan ditempat mereka itu ada satu pohon kelapa yang hanya berbuah satu.Melarnaban memanjat kelapa itu setelah buah kelapa jatuh adik-adiknya sudah minum habis airnya lalu mereka kencing dalam kelapa untuk Melarnaban, itu tidak diterima Melarnaban lalu mereka berpisa.

Sebelum berpisa mereka membagi semua harta yang mereka dapatkan di Makatian.Melarnaban sendiri memilih tinggal di Kei Tnebar dengan membawa emas Fangori. Emas-emas didalam guci dibagi sama.Sedangkan adik-adiknya dibawah pimpinan Metanilaa kembali berlayar mencari tempat lain dengan membawah emas Yaalwaar dan Turnifmasa dan beberapa emas yang tidak diberi nama.

Setelah selesai dengan acara adat mereka berlayar kearah selatan dan tiba di Pulau Fordata bagian timur dengan tempatnya bernama Wurloru bagian pantai.Saat itu pulau Fordataa sudah ada penduduk asli Ditempat itu juga terlalu sempit ,tidak terlalu baik dengan penduduk setempat maka mereka pinda dari  Wurloru dan melalui pesisr timur pulau Fordata yaitu tempat yang sekrang bernama Luhun Watu.

Keluarga Metanilaa dan penduduk terjalin komunikasi yang baik maklum, saat itu sudah ada penduduk asli di sebelah barat pulau Fordata yaitu kampung Sofyanin.Pada suatu hari Mela-Mela (Bangsawan) kampung Sofyanin datang ke Luhun Watu untuk bertemu keluarga Metanilaa,dan membujuk  Metanilaa dan adik-adiknya mahu bergabung dengan penduduk kampung Sofyanin tetapi mereka tidak mau.

Akhirnya Mela-Mela Sofyanin kembali kepada keluarga Metanilaa dengan suatu janji yang apabila mereka bersedia bergabung dengan penduduk kampung Sofyanin Metanilaa dan adik-adiknya akan diberi hak dalam kampung Sofyani sebagai Mela Snoba (Sumpah),Mela Fwalat ( Teriak) dan Mela Kubani (Pemerintahan) dan hak-hak lain yang cukup banyak,tetapi keluarga Metanilaa tidak bersedia.

Metanilaa dan adik-adiknya masih di Luhun Watu,tetapi kondisi kurang baik,aman,akhirnya mereka kembali meninggalkan Luhun Watu dan menuju Kabalnidi disebelah timur pulau Fordata (diatas kampung Sofyanin).Saat itu Mela-Mela Sofyanin kembali datang meminta Metanilaa dan adik-adiknya bersatu dengan penduduk kampung Soyanin tetapi keluarga Metanilaa menolak.

Akhirnta Mela-Mela Sofyanin memberikan kepetusan kepada keluarga Metanilaa dan adik-adiknya dengan meminta mereka bersatu dan diberi Mela Wen (artinya mereka yang terakhir memberikan pendapat sebagai keputusan oleh Mela-Mela,tetapi kalalu keluarga Metanilaa tidak setuju maka mereka mempunyai hak penuh untuk membatalkan keputusan.Dan hak untuk bisa menegor suara dari Mela-Mela kalau dianggap salah.

Janji dan pemberian hak-hak inilah yang diterima baik oleh Keluarga Metanilaa dan adik-adiknya serta para pengikutnya sehingga akhirnya mereka setuju untuk bergabung dengan penduduk asli dan para Mela-Mela Sofyanin.Namun karena pengaruh agama Kristen yang masuk wilayah Maluku sampai ke pulau Fordata dan juga terasa di kampung Sofyanin,sehingga kampung terbagi dua.

Kristen Katolik tetap di Sofyanin sedangkan Kristen Protestan di Walerang.Walaupun begitu tetapi dalam hubungan hak-hak diatas tetap berlaku sampai hari ini dan seterusnya.Akibat dari hak tersebut maka di Sofyanin dan Walerang sering disebut Sofyanin Raya.Dari Moyang Melarnaban sampai sekarang telah memasuki keturunan ke 8 dan tetap mempertahankan hak-hak yang diberi oleh Mela-Mela Sofyanin.

Oleh : Aris Wuarbanaran

 

About admin

Check Also

Sejarah Marga Wuarlela

N25NEWS.COM-Dahulu kala moyang marga Wuarlela ini berasal dari Pulau Maktian.Ada tiga orang adik kakak kandung,tetapi …