Breaking News
buka sasi lompa di Haruku

Sejarah Masuknya Ikan Lompa Di Negeri Haruku Dan Tradisi Sasi

N25NEWS.COM -Menurut tuturan cerita rakyat Haruku,konon dahulu kala di kali (sungai) Learissa Kayeli terdapat seekor buaya betina,Karena hanya seekor buaya yang mendiami kali ini,buaya itu dijuluki oleh penduduk sebagai Raja Learissa Kayeli.Buaya itu sangat akrab dengan warga Negeri Haruku.

Dahulu, belum ada jembatan di kali Learissa Kayeli,sehingga bila air pasang,penduduk Haruku harus berenang menyeberangi kali itu jika hendak ke hutan.Buaya tadi sering membantu mereka dengan cara meyediakan punggungnya untuk ditumpangi oleh penduduk Haruku meyeberangi kali.Sebagai imbalan biasanya para warga negeri meyediakan cincin yang terbuat dari ijuk dan dipasang pada jari-jari buaya itu.

Pada zaman datuk-datuk dahulu,mereka percaya pada kekuatan serba gaib yang sering membantu mereka.Mereka juga percaya bahwa binatang dapat berbicara dengan manusia.Pada suatu saat terjadilah perkelahian antara buaya-buaya di Pulau Seram dengan seekor ular besar di Tanjung Sial.Dalam perkelahian tersebut buaya-buaya Seram itu selalu terkalakan dan dibunuh oleh ular besar tadi.

Dalam terdesak buaya-buaya itu dayang menjemput Buaya Learissa yang sedang dalam keadaan hamil tua.Tetapi demi membela rekan-rekannya  di Pulau Seram berangkat jugalah sang Raja Learissa Kayeli ke tanjung sial.Perkelahian sengit pun tak terhindarkan.Ular besar akhirnya berhasil dibunuh,Buaya Learissa juga terluka parah.

Sebagai hadiah buaya-buaya Seram memberikan ikan-ikan lompa,make (juga jenis ikan tembang atau sardin sardinella Sp) dan ikan parang-parang (Chirocentrus dorab) kepada Buaya Learissa untuk makanan bayinya jika lahir kelak.Maka pulanglah Buaya Learissa Kayeli ke Haruku dengan menyusuri pantai Liang dan Waai.Setibanya di pantai Waai Buaya Learissa Kayeli tak dapat lagi melanjutkan perjalanan karena lukanya sangat parah.

Dia terdampar disana.Penduduk setempat yang tidak mengenalnya beramai-ramai berusaha membunuhnya,namun tetap saja buaya itu tidak mati.Sang buaya lalu berkata kepada para pemukulnya “ambil saja sapu lidi dan tusukan pada pusar saya”.Penduduk Waai mengikuti saran itu dan menusuk pusar Sang Buaya dengan sapu lidi.Dan matilah sang Raja Learissa Kayeli.

Baca juga :   Nyanyian Adat Di Kepulauan Kei

Tetapi,sebelum menghembuskan nafas terakhir,sang buaya masih sempat melahirkan anaknya.Anak inilah yang kemudian pulang ke Haruku dengan meyesuri pantai Tulehu,malahan kesasar sampai ke pantai Passo,dengan membawa semua hadia ikan-ikan dari buaya-buaya Seram tadi.

Karena lama mencari jalan pulang ke Haruku,maka ikan parang-parang tertinggal di Passo,sehibgga hanya ikan lompa dan make yang terbawa pulang sampai ke Haruku,itulah sebabnya hanya ikan lompa dan make yang merupakan hasil laut tahunan Haruku,sedangkan ikan parang-parang merupakan hasil terbesar di Passo.

Sementara itu mengenai tradisi sasi di Haruku,sama halnya juga dengan desa-desa lain di Maluku, di negeri (desa) Haruku,hukum adat sasi sudah ada sejak dahulu kala.Belum ditemukan data dan informasi autentik tentang sejak kapan sasi diberlakukan di desa ini tetapi,dari legenda atau cerita rakyat setempat diperkirakan sejak tahun 1600an sasi sudah mulai dibudayakan di Negeri Haruku.

Sasi dapat diartikan sebagai larangan untuk mengambil hasil sumber daya hayati (hewani maupun nabati) alam tersebut.Karena dalam peraturan-peraturan dalam pelaksanaan larangan ini juga menyangkut pengaturan hubungan manusia dengan alam dan antar manusia dalam wilayah yang dikenakan larangan tersebut.

Maka sasi pada hakekatnya juga merupakan suatu upaya untuk memelihara tata krama hidup bermasyarakat,termasuk upaya kearah pemerataan pembagian atau pendapatan dari hasil sumber daya alam sekitar,kepada seluruh warga/penduduk setempat.Sasi memiliki peraturan-peraturan yang ditetapkan dalam suatu keputusan kerapatan Dewan Adat (saniri,di Haruku disebut saniri lo osi Aman Haru-Ukuy,atau saniri Lengkap Negeri Haruku).

Keputusan kerapatan adat inilah yang dilimpahkan kewenangan pelaksanaanya kepda lembaga kewang,yakni suatu lembaga adat yang ditunjuk untuk melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan-peraturan sasi tersebut.

Lembaga kewang di Haruku dibentuk sejak sasi ada dan diberlakukan di desa ini struktur kepengurusannya adalah sebagai berikut seorang kepala kewang darat,seorang kepala kewang laut,seorang pembantu kepala kewang darat,seorang pembantu kepala kewang laut,seorang sekretaris,seorang bendahara dan beberapa anggota.

Sumber : Balai Pelestarian Nilai Budaya Ambon

About admin

Check Also

Upacara Pataheri,Tari Lenso Dan Gula Saparua Di Tetapkan Sebagai Warisan Budaya Maluku

AMBON,N25NEWS.COM – Pada 2018 kemarin telah di sertifikatkan 3 Karya Budaya Takbenda asal Maluku oleh …