Breaking News

Sejarah Matarumah/Marga Bothmir

AMBON,N25NEWS.COM-Marga Baothmin berasal dari desa Marfenfen,Kabupaten Kepulauan mereka Aru, sebagai pemegang atau pemangku adat.

Menurut cerita dari informasi marga Bothmir,bahwa dahulu kala datuk-datuk mereka berasal dari segumpal sagu yang terletak di dalam tempayang.

Moyang dari marga Bothmir ini,yaitu dari sepasang suami istri pada suatu saat mereka pergi ke acara adat,sewaktu pulang,mereka mendengar ada suara dari dalam tempayang yang berbunyi,”jom-jom kuta kala-kala Labuan papaion kuta kala-kala yang artinya ,”nene tete beta mau kaluar tetapi mulut tempauang ini sesak.

Mendengar suara dari tempayang kedua suami istri itu lalu memecahkan tempayang tersebut dan keluar seorang manusia laki-laki yang berkulit putih.Menurut cerita manusia laki-laki tersebut putih dan bercahaya,karena bercahaya dia dipakai sebagai obor penerang atau obor pada malam hari.

Manusia bercahaya yang bersembunyi di dalam tempayang tersebut,lama-kelamahan diketahui oleh masyarakat yang lain.Mereka melihat laki-laki putih bercahaya itu dan mereka merasa iri.Maka pada suatu saat mereka mengatur siasat dengan cara membakar hati gaba-gaba (bagian dalam pelepah sagu) menjadi arang dan menggosoknya pada badan laki-laki putih bercahaya tersebut.

Mereka melakukan hal tersebut dengan tujuannya adalah untuk membuat dia tidak bercahaya lagi dan dia berwarna hitam,agar suami istri yang mendapati laki-laki tersebut tidak dapat mempergunakannya lagi sebagai penerang pada waktu malam hari.Laki-laki putih dan bercahaya yang telah berubah menjadi hitam tersebut oleh masayarakat disebut Dakosana.

Menurut informasi dari marga Bothmir dengan adanya peristiwa tersebut diatas maka sampai saat ini keturunan dari marga Bothmir sekarang yang ada berkulit putih dan juga ada yang berkulit hitam.

Sementara itu ada juga fersi cerita lain dari marga Bothmir yakni pada suatu saat masyarakat Aru berkumpul di pulau Eno Karang tepatnya di Aru Selatan.Meraka berkumpul dan terjadi perkelahian dan salah satu datuk menyumpah dan Pulau Eno Karang tenggelam.

Masyarakat mengungsi ke pulau Besar yaitu Pulau Aru.Mereka mengungsi memakai perahu belang yang disebut Kalaitom,Kalai artinya belang sedangkan Tom artinya nama,jadi kalaitom artinya belang dari tiap-tiap nama marga.

Nama dari Kalaiton pada marga Bothmir adalah Kalaitom Salai,belum ada nama matarumah/marga Bothimin tetapi matarumah Damser Salai berubah menjadi nama Larsiar yang artinya Lar layar,sedangkan Ser artinya Daun Tikar.Karena dulu mereka berlayar menujuh paulau besar/pulau Aru memaka perahu belang/kalaitom yang layarnya terbuat dari tikar.

Pada saat Pulau Eno tenggelam,Kelatito Salai dari marga Larsiar dan juga Kalaitom-kalaitom dari marga-marga yang lain,mereka berlayar menuju ke pulau besar yaitu Pulau Aru.Sampai di Pulau Aru mereka membuat sebuah perkampungan dan kelauarga besat Larsier mnempati tempat tinggal pada bagian belakang dari kampung di Pulau Aru.

Dalam percakapan sehari-hari masyarakat,apabila ada orang yang akan ke tempat keluarga Larsear biasanya masyarakat menyebutnya dengan bahasa Aru yaitu Bothmir yang artinya Bot yaitu rumah dan Mier yaitu belakang.Jadi pengertian dari Bothmir yaitu rumah belakang atau marga Larseiar yang tinggal di bagian belakang kampung.

Pada akhirnya dan sampai dengan saat ini mereka tidak memakai marga Larsiar lagi,tetapi memakai marga Bothmir yang sering dipanggil oleh masyarakat setempat karena tempat tinggal mereka.

Sumber   : W.Pattinama,SH (Peneliti Balai Pelestarian  Nilai Budaya Maluku dan Maluku Utara)

 

About admin

Check Also

Mengenal Sejarah Kailolo,Kampung Kiai di Maluku

AMBON,N25NEWS.COM-Maluku merupakan salah satu Provinsi di bagian Timur Indonesia dengan Kota Ambon sebagai pusat pemerintahan …