Breaking News

The First Pacific Exposition Maluku Harus Belajar Dari NTT dan Papua

AMBON,N25NEWS.COM – Pelaksanaan pameran pasifik perdagangan, investasi, dan pariwisata, yang dirancang untuk memfasilitasi negara-negara Pasifik Selatan untuk mempromosikan peluang ekonomi Indonesia dalam The First Pacific Exposition yang berlangsung di New Zealand, Juli bulan kemarin, penampilan Maluku jauh dibawa standar seperti yang ditampilkan Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Papua.

“Maluku harus belajar banyak dari NTT dan Papua yang penampilannya juah lebih bagus dari Maluku, padahal pamerannya itu kelas dunia yang dihadiri ribua orang dari 20 negara Pacific,” ungkap Ketua Fucus Eastean Indonesia Iwan Muskita dari Australia melalui vie selulernya, Rabu(7/8).

Ke 20 Negara yang hadir antara lain, Australia, Cook Island, Federated States of Micronesia, Fiji, French Polynesia, Indonesia, Kiribati, Marshall Islands, Nauru, New Zealand, Niue, Palau, Papua New Guinea, Samoa, Solomon Islands, Timor Leste, Tuvalu, Vanuatu, New Caledonia.

Selaku pengusaha kata Muskita, pemeran The First Pacific Exposition merupakan peluang bagi Maluku untuk meningkatkan peluang bisnis dan mengembangkan jaringan komunitas bisnis maupun pariwisata di Pasifik untuk mempromosikan apa-apa yang menjadi prodak unggulan yang ada di Maluku, juga merupakan langkah pertama menuju penghubung barang dan orang-orang di Pasifik dan Asia Tenggara.

Sayangnya peluang tersebut dibiarkan begitu saja, bahkan terkesan dianggap biasa-biasa saja oleh para pejabat yang hadir saat diundang Duta Besar RI New Zealand Tantowi Yahya.

Ia mencontohkan, selaku putra Maluku yang juga terlibat langsung mendukung The First Pacific Exposition yang mengusung tema Towards One Pacific Destination, sangat menyesalkan keberadaan Sekda Maluku yang hadir mewakili Maluku dan Wakil Walikota (Wawali) Ambon yang tidak menghargai undangan Dirjen Perdagangan.

“Inikan pertemuan yang sangat penting, dari Kementerian Perdagangan yang ingin membantu bagaimana produk-produk dari Maluku bisa masuk ke pasar internasional, khususnya Australia, New Zealand dan Pasifik , jadi saya duduk dengan Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional (PEN), Kementerian Perdagangan, ibu Arlinda yang meminta saya mengatur pertemuan dengan tim dari Maluku dan saya sudah kasih tahu pak Seda Maluku pagi katong baku dapat dilantai 4 hotel Huglen yang ditempati rombongan Indonesia, termasuk pejabat yang lainnya, anehnya pada harinya tepat pukul 08.30 waktu New Zealand, tidak ada satupun batang hidung dari meraka yang hadir,”bebernya.

Seharusnya produk Maluku yang ditampilkan dapat menarik perhatian pengunjung pameran, tetapi yang terjadi orang lebih tertarik tampilan pada prodak dari provinsi Papua dan NTT yang memiliki nilai jual bagi negara luar.

“Dari penampilannya aja orang mau masuk di stan Maluku jadi malas, bahkan kalau dibilang tidak ada orang yang ditugaskan untuk menjelaskan, ketiga ada pengunjung yang bertanya tentang cara dan manfaat dari prodak yang dijual, contohnya minyak kayu putih, minyak tawon, kain tenun dan lainnya,”ujarnya.

Bahkan yang lebih aneh lagi ketiga dirinya bertanya kepada Kadis Periwisata Maluku yang saat itu masih dijabat Habiba Saimima kata Muskita, ketika ditanya apa yang menjadi prodak unggulan pariwisata Maluku, Kadis tersebut tidak menjelaskan secara pasti.

“Waktu saya datang di stan Papua, wah gambarnya menarik sekali, ini gambar apa, serantak mereka menjawab dengan lantang, apa-apa yang menjadi prodak unggalan dari pariwisata, contohnya Raja Ampa dengan berbagai fasilitas pendukung hingga sampai di objek wisata, di stan Maluku beda selain tidak ada petusan Kadispun tidak bisa menjelaskan secara terperinci,”katanya.
Tapi spanduk maupun gambar-gambar yang ditempelkan pada stan pameran juga mereka tidak bisa menjelaskan, bagaimana orang bisa sampai dilokasi tersebut.

Padahal Maluku lanjut Muskita, penempatan lokasi stan Maluku sengaja ditempatkan pada lokasi terdepan dari provinsi lain, dengan maksud agar ketika pengunjang yanga datang, pertamnya harus melihat stan Maluku.
Namun sayangnya hal tersebut tidak dimanfaatkan pemerintah Provinsi Maluku untuk menampilkan prodak unggalan termasuk pariwisata.

“Saya bisa katakan kalau Maluku belum siap dan tidak punyak konsep dengan promosi, sehingga tidak ada implementasi dari hasil kunjungan dari The First Pacific Exposition dan itu hanya hambur-hambur uang rakyat,”cetusnya.

Dia juga menyinggung soal Ambon kota Musik yang dalam konteks The First Pacific Exposition juga tidak ditampilkan di pameran tersebut. Padahal momen itu sangat tepat untuk bisa mengebur-geburkan Ambon sebagai kota musik, tapi hal itu sama sekali tidak ditonjolkan dari Pemerintah Kota Ambon yang saat itu dihadiri Wawali Ambon.

Padahal forum tersebut ada dua sukses menghampiri Indonesia. Sukses diplomasi, sekaligus sukses kolaborasi pariwisata dengan Pacific One Destination.

Reporter : Gali M

Editor :Redaksi

.

About admin

Check Also

Usai 17 Agustus 2019, SUPM Waiheru Gelar Pandu Laut Indonesia

AMBON,N25NEWS.COM – Telah usainya upacara hari kemerdekaan negara Republik Indonesia (RI) yang ke-74, Sekolah Usaha …