Breaking News

Ubu Ratu Dalam Konteks Budaya Di Fordata

Secara geografis pulau Fordata terletak di kepulauan Tanimbar bagian utara. Pulau Fordata ini meliputi 6 desa yaitu desa Romean, Rumngeur,Awear, Sofianin, Walerang dan Adodo.

Mayoritas masyarakat disana pekerjaannya sehari-hari ialah sebagai pengolah sopi, petani dan nelayan. Masyarakat yang hidup di pulau Fordata terbagi dalam kasta-kasta sosial yang melebur ke dalam marga (biasanya tercantum di belakang nama orang) dengan demikian  ritual adat dan pertemuan warga desa biasanya pemimpinnya adalah orang-orang yang mewarisi kasta atas.

Pada dasarnya masyarakat disana semuanya menganut kepercayaan kepada kristus (Kristen). Menjadi orang kristen berarti menerima kulit atau seragam baru sebagai pengganti yang lama itu sebabnya berbagai cara berpikir dan sikap-sikap lama bahkan juga kelaziman-kelaziman yang berakar pada agama asli.

Nampaknya walaupun orang-orang Fordata telah beragama Kristen namun sampai saat ini kepercayaan dari masyarakat di pulau Fordata terhadap Tuhan/roh yang menyerupai Ubu Ratu masih terus dilakukan dalam ritual adat-adat dalam acara-acara perkawinan, mendirikan Rumah baru, menerima tamu, bakar kebun baru, orang yang meninggal dunia dan lain-lain.

Perkawinan merupakan hubungan orang dewasa yang optimal, terutama bagi perempuan, yang secara historis hanya mempunyai sedikit pilihan lain saja. Maka perkawinan nyaris defenisi eksklusif atas kedewasaan perempuan.

Kebiasaan seperti ini sering terjadi di dalam masyarakat Fordata, dimana orang tua sangat berperan aktif dalam pemilihan jodoh bagi anak gadisnya, hal ini dilakukan orang tua agar tidak terjadi perkawinan antar saudara di dalam mata rumah tersebut.

Dalam proses meminang gadis, biasanya laki-laki yang haruslah membawa sopi,kain dan  babi untuk meminang perempuan. kelompok yang mewakili kaum laki-laki yang akan menjadi juru bicara dalam acara pinangan (masuk minta perempuan menjadi istri) namun pembukaan dan penutupan  haruslah menyebutkan nama Ubu Ratu itu sendiri dalam acara tersebut.

Kemudian pada acara biasanya dalam mendirikan rumah baru dilakukan secara gotong royong, pembangunan rumah baru pertama dilakukan dengan peletakan batu pertama oleh tua adat, sebelum meletakan batu pertama tua adat berdoa kepada Ubu Ratu dan menyiramkan sopi ke dasar rumah yang hendak dibangun ketika ritual itu berhasil dan tanpa di timpa hujan dan badai berarti Ubu Ratu menghendaki untuk rumah itu di bangun.

Dalam proses penerimaan tamu yang akan bertugas di pulau Fordata tersebut harus melalui jalur adat. kronooginya ketika seorang pendeta yang bertugas di desa Walerang maka tua-tua adat akan menyambut pendeta tersebut di tepi pantai, ketika.

Pendeta dan keluarganya  menginjakan kaki mereka di pantai maka segerombolan para warga yang di depannya berdiri tua-tua adat akan menyambut pendeta dan keluarganya lalu menandakan pasir pantai di dahi pendeta dan keluarga setelah itu tua adat tersebut mengucapkan sumpah adat dengan mengatasnamakan Ubu Ratu dan memercik air kemiri ke kepala pendeta dan keluarganya sambil mengalungkan kain tenun di leher pendeta dan keluarganya.

Setelah itu diberikan sirih, pinang untuk di makan oleh pendeta dan keluarganya  sebagai tanda keakraban antara tamu dan orang Pribumi dan penerimaan sebagai keluarga dalam komunitas tersebut.

Deskripsi pada masyarakat di pulau Fordata rata-rata penduduknya adalah bertani dan menjadi nelayan, jadi masyarakat sering membuat perkebunan, namun di samping itu masyarakat juga terjebak dalam paham kosmosentris mereka sadar dan percaya bahwa hutan adalah tempat yang sakral jadi untuk membakar hutan dan membuat kebun baru.

Biasanya di awali dengan ritual adat terlebih dahulu. Sebagai tanda meminta isin kepada Ubu Ratu yang adalah kepala atas alam semesta dan yang telah memberikan tanah bagi mereka kelola.

Sedangkan untuk kematian dalam segala cara, merupakan kesetaraan yang hebat. Itulah salah satu saat dalam tradisi di mana perempuan go public. Upacara pemakaman untuk laki-laki dan perempuan sama, termasuk pembasuhan lengkap jenazah sebagai persiapan penguburan.

Baca juga :   DP3AP2KB Kepulauan  Tanimbar Gelar Pelatihan Pembantu Pembina KB

Pembasuhan merupakan lambang penghormatan kepada orang mati dan kekudusan tubuh meskipun hidup telah meninggalkannya.Demikian juga yang terjadi di pulau Fordata orang-orang yang mengalami kematian baik laki-laki maupun perempuan semuanya di urus dengan baik dalam sebuah ritual.

Orang yang punya hubungan saudara(duang dan lolat) dengan jenazah harus menanggung seluruh biaya dan proses berjalannya upacara kematian tersebut.

Kehidupan di pulau Fordata sangatlah dipengaruhi oleh kebudayaan lokal baik dalam bentuk religiousitas maupun aktivitas sosial dua-duanya tidak bisa terlepas (otonom) dari kebudayaan Lokal itu sendiri.

Kepercayaan mereka terhadap Ubu Ratu tidak di jadikan sebagai teori saja, tetapi lebih kepada Praksis itu sendiri. Contohnya masyarakat yang terjebak dalam paham “Kosmosentris” meyakini bahwa Hutan adalah tempat tinggal Ubu Ratu.

Dari sini masyarakat cenderung menolak dengan keras paham “Antroposentris” yang sering dilakukan oleh masyarakat modern sebagai bentuk mengeksploitasi hutan secara sembarangan.

Dari contoh di atas menunjukan bahwa walaupun manusia-manusia di Pulau Fordata masih di belenggu oleh semangat dogmatisasi terhadap Alam dan cenderung mengabaikan semangat pencerahan (rasionalisasi sebagai sebuah emansipasi) namun mereka tetap selalu bahagia fokus menjalani dan menegakan Kebudayaan lokal (ritual adat).

Tidaklah mengherankan ketika anak-anak mereka bersekolah dan pastinya mengeluarkan biaya yang cukub besar tetapi kalau di saat yang bersamaan masih ada tanggungan biaya adat yang akan diprioritaskan terlebih dahulu adalah tanggungan adat itu sendiri.

Mengapa? Karena kebudayaan Lokal (ritual adat) adalah identitas diri mereka dan ini juga menyangkut nama baik dari keluarga mereka sendiri. Mereka selalu berupaya keras untuk mempertahankan identitas diri di hadapan Ubu Ratu dan juga Sesama, dengan tidak memenuhi tuntutan/kewajiban identitas diri berarti sama saja dengan mencemarkan nama baik di dalam civitas dan mengundang malapetaka dari ubu Ratu.

Dari hal semacam ini ketika civitas menganut kepercayaan terhadap Kristus (Kristen) kebiasaan ini di masukan ke dalam gereja, Yesus Kristus berubah nama menjadi Ubu ratu, Gereja di pahami sebagai tempat tinggal dari Ubu ratu tersebut semua ini berjalan baik karena awal ketika kekristenan masuk ke Pulau Fordata.

Gereja memakai metode kontekstualisasi sebagai capaian untuk saling memahami antara Injil dan Budaya. Ini bisa terlihat jelas dalam hal memberi persembahan kepada Yesus Kristus/Ubu ratu, persembahan di lakukan dalam bentuk hasil panen (ubi, ketela, jagung, dan sopi) meskipun itu juga bagian dari pemahaman gereja akan kewajiban memberikan perpuluhan menurut Perjanjian Lama namun jauh sebelum perpuluhan di kenal oleh masyarakat Fordata lewat ajaran Kristen, mereka  dahulu telah memberikan persembahan semacam itu pada Ubu ratu di hutan dan lautan.

Terhadap diri Tuhan sebagai Ubu ratu tetaplah di pertahankan dan di maknai sebagai suatu nilai yang kaya akan budaya. Ketika Pra kekristenan di Pulau Fordata penyembahan terhadap Ubu Ratu menunjukan bahwa ada benih-benih injil yang terkandung dalam budaya dan bersifat pasif namun Pasca Kekristenan di Pulau fordata benih injil dalam budaya itu berubah menjadi aktif dalam pengenalannya akan Kristus.

Namun dogmatisasi terhadap alam perlu untuk di pertimbangkan agar tidak terjerumus dalam pandangan animisme dan dinamisme. Gereja tidak usah sungkan dan ragu untuk berdoa memakai nama Ubu ratu karena itu adalah nama kepada Yesus sendiri, semakin gereja memakai budaya untuk memuji Tuhan itu artinya gereja peduli terhadap dunia tetapi gereja harus melihat kebiasaan lama di dalam budaya yang mengandung unsur negativ haruslah digantikan dengan yang positif dari injil agar gereja tidak menjadi sama dengan dunia.

 

Sumber        : Frejhon Cleimen Lasatira

 

 

About admin

Check Also

Bupati Serahkan SK CPNS 2018 Kepada 194 CPNS KKT

KKT,N25NEWS.COM – Badan Kepegawaian dan Pengembangan SDM Kabupaten Kepulauan Tanimbar mengadakan apel ( Rabu, 12/06/19 …