Akses Rute Transportasi Laut Waai-Haruku Terputus,Wakil Ketua Komisi III DPRD Malteng Menyebut Masyarakat Pulau Haruku Merasa Dianak Tirikan

AMBON,N25NEWS.com-Masyarakat Haruku,Kecamatan Pulau Haruku Kabupaten Maluku Tengah,dibuat kecewa dan merasa di anak tirikan,dengan tidak adanya kesinambungan rute pelayaran kapal feri Waai-Haruku.

Padahal moda transportasi laut memegang peran penting terhadap pertumbuhan perekonomian pada suatu daerah.Olehnya,pemerintah patut memperhatikan hal tersebut agar tidak terjadi kesenjangan di masyarakat.

Adapun,keluhan tersebut disampaikan Ketua Fraksi PKB DPRD Maluku Tengah Muhammad Rany Tualeka ST,sekaligus
Wakil Ketua Komisi yang bermitra dengan Dinas Perhubungan.

“Saya kuatir tol laut yang didengungkan oleh pemerintah pusat tidak diimplementasikan pemerintah daerah,
sehingga membingungkan masyarakat bahkan janji pemerintah bagi masyarakat adalah harapan palsu,”ungkap Muhammad Rany Tualeka,kepada N25NEWS.com,saat mengunjungi Pelabuhan Waai, Kamis (27/5).

Menurut anggota dewan yang biasa disapa MRT ini,seharusnya Pemda dalam hal ini PD Panca Karya harus menjaga
momentum yang telah terbangun dalam meningkatkan peran sektor transportasi laut dengan upaya-upaya prioritas.
Namun,masyarakat justru menjadi korban dari boboroknya manajemen Panca Karya .

Ironis memang,dilain pihak Direktur Panca Karya,Rusdi Ambon menyebutkan dibawah kepemimpinanya Panca Karya
berhasil memperbaiki PAD dan sekaligus menutupi berbagai hutang serta berhasil menata kelola manajemen dan
direksi.

“Saya mengsinyalir ketidak jelasan Panca Karya dalam memenuhi hak-hak karyawannya mengakibatkan rute
Waai-Haruku terputus,”tutur Tualeka.

“Kalau kinerja Panca Karya yang tidak sehat ini,maka saya usulkan pemerintah daerah harus mengambil langkah
cepat yakni,biarlah ASDP yang melayari rute Haruku,”tegas Tualeka.

Lebih lanjut Tualeka menambahkan,pemerintah jangan menutup mata terkait hal ini,karena jika dibiarkan maka tentu roda perekonomian akan terganggu di masa pandemi covid-19.

“Jadi,masyarakat sangat merasakan dampak tidak adanya transportasi ke Haruku ini.Bahkan kita lihat terjadi
penumpukan di Pelabuhan Waai selama 3-4 hari dan yang pasti anggaran yang dikeliarkan masyarakat pun
bertambah,”ujar Tualeka.

Adapun,situasi yang terjadi sangat miris,dimana masyarakat disusahkan,dimana fakta dilapngan masyarakat harus menggunakan anggaran chas dengan demikian masyarakat akan merugi jutaan rupiah (chas 3 hari harus keluarkan tiga juta),belum lagi jika bahan material seperti semen dari Rp 80 ribu naik sampai Rp 100 ribu rupiah.

“Untuk itu,saya berharap pemerintah jangan menyusahakan masyarakat,namun seharusnya pemerintah mencari solusi
untuk meringankan beban masyarakat dimasa pandemi corona,”ucapnya.
3 bulan kejadian ini berlangsung dan langkah itu,adalah dengan sediakan sarana transportasi lain untuk
menggantikan kapal yang sedang doking,”jelasnya.

Anggota Dewan 2 periode ini juga, ingin permasalahan ini secepatnya selesai,”Sebab kita tau Pulau Haruku
merupakan salah satu kacamatan yang turut memberikan kontribusi besar bagi Maluku dn bahkan republik ini,
jadi sekali lagi jangan mereka dianak tirikan,”tandas Tualeka.

Editor : Aris Wuarbanaran

Check Also

Komisi I Akui Pembelian Mobil Dinas Gubernur dan Wagub Pelanggaran Fatal Kurang Lebih Rp 400 Juta Dikembalikan

AMBON,N25NEWS.com – Kendati sudah menjadi temuan Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) atas pengadaan dua unit mobil …