Batu Bernada Di Negeri Ulahahan

AMBON,N25NEWS.com-Nelsano A Latupeirissa adalah sang penggagas dan pencipta musik Babatu,untuk terapi serta musik penghibur masyarakat di tengah kondisi pandemi Covid-19.

Kisah Nelsano yang merupakan Musisi Alifuru dan juga Dosen Musik IAKN Ambon ini, nampaknya bisa menjadi inspirasi,sebab selain kesibukannya di kampus,dia juga penggagas musik Babatu ini, dengan memanfaatkan alat-alat sederhana dari alam sekitarnya.

Ketika di wawancarai,N25NEWS.com,Selasa (17/8/2021),awal mula Nelsano membuat musik Babatu dia terinpirasi dari,guru sekaligus dosennya,yakni pak Kris Tamaela.

Dari situ dia mencoba menarik benang merah antara perbuatan baik,kreatif dan tekad kuat sehingga terciptanya alat musik Babatu tersebut.

“Saya terpikir bagaimana bisa membuat anak-anak ini bisa berkumpul,bisa berada dalam kondisi tetap berkarya.Karen rata-rata pandemi membuat banyak anak itu takut dan sebagainya,”ujar Nelsano.

Dijelaskannya lagi, musik Babatu itu muncul itu karena dari Istilahnya babatu itu adalah bambu,batu dan kayu,secara harafia seperti itu,namun sebenarnya punya makna tersendiri.

“Babatu dalam bahasa Ambon itu artinya batuk-batuk biasa dibilang batuk.Jadi awal korona kalau orang batuk pasti sudah lari semuanya,”ucapnya.

Lebih lanjut,menurut pentolan Kelompok Musik Babatu ini,orang yang batuk orang yang batuk itu pasti merasa minder dan mereka punya kreatifitas akan mati juga.”Tapi kami menantang itu, bahwa sekalipun pandemi kami tetap berkarya berapresiasi lewat musik babatu itu. Jadi musik babatu lahir di era pandemik,”paparnya.

Adapun,musik Babatu yang dia buat tersebut sangat simple,sederhana,sebab babatu itu dari benda-benda alam saja.Dimana pihaknya terinpirasi seperti itu,jadi dia berpikir jangan sampai didaerah-daerah pedalaman mengharapkan alat-alat musik yang modern tapi tidak ada,di pinggir-pinggir rumah ada batu-batu ada kayu-kayu dan bambu-bambu mengapa tidak digunkan. Akhirnya pihaknya membuat musik babatu tersebut.

“Jadi gambaran umunya sepert itu dan satu tujuan itu adalah,kami disana ada namanya kelompok musik babatu itu,jadi dari anak-anak Paud sampai dengan kumpulan anak-anak SMP,”jelasnya.

“Personil kami di kelompok musik babatu adalah sekitar hampir 50 orang.Jadi ada yang main suling bambu,ada yang main Ukulele,gitar,ada main Kajon,ada main totobuang.Batu yang dalam bahasa Ulahan sendiri adalah “pele fatwa mitu” itu semua kita buat jadi satu semua,”jelasnya.

Adapun,ini adalah karya kedua,nantinya di tanggal 17 Agustus 2021, dengan temanya itu adalah “Melodi Babatu Untuk Sang Merah Putih”.

“Tetapi kali ini,kita gagas Melodi Babatu Doa Untuk Nusantaraku”karena mengingat kondisi pandemi yang berkepanjangan banyak pahlawan kesehatan yang meninggal,maka lewat musik Babatu kami memberikan dukungan moral bagi pahlawan-pahlawan kesehatan itu untuk tetap setia bekerja untuk mengatasi problem yang sedang diatasi bangsa ini,”katanya.

Sedangkan,untuk yang mengikuti kegiatan musik Babatu ini dari usia Paud rata ada yang 5 tahun sampai dengan SMP kelas tiga.Sementara untuk SMA tidak ada,karena di Ulahan tidak ada SMA.Olehnya,anak-anak setelah lulus SMP mereka lanjut sekolah SMAnya di Masohi.

“Namun untuk sekarang ini kelompok saya itu ada sekitar 5 orang anggota yang sudah masuk SMA,”ujar Musisi Alifuru ini.

Adapun,Nelsano berharap untuk kedepannya Kelompok Musik Babatu ini bisa dikenal oleh banyak masyarakat di terutama di Maluku.

Musik Babatu ini patut diterima masyarakat,maka tentu masyarakat akan lebih mencintai musik yang ada pada diri mereka sendiri.Jadi istilanya dia (Nelsano) lebih menyetujui bukan musik etnik tapi dia lebih senang menyebutnya dalam musik rakyat.

“Karena bagi saya musik rakyat itu adalah musik yang merakyat,karena banyak orang melihat banyak yang tertarik itu merakyat,tapi kalau musik etnis mungkin saja komunitas tertentu saja yang menyukai tapi tidak semua orang,karena etnis tertentu,”tandasnya.

Editor : Aris Wuarbanaran

Check Also

Rence Alfons Sebut Konsep Music Turism,Salah Satu Kensep Pariwisata Tepat Di kembangkan Di Kota Ambon

AMBON,N25NEWS.com – Rence Alfons Pendiri Molucca Bamboowind Orchestra menyebut mengelolah periwisata berbasis keindahan alam di …