Jemaat Imanuel Amahusu,Gelar Diskusi Pencegahan Radikalisme Dan Sadar Konstitusi Berbasis Komunitas

AMBON,N25NEWS.com-Jemaat Imanuel dalam hal ini Seksi Pengembangan Oikumene Semesta HPM Imanuel Amahusu menggelar diskusi terkait pencegahan gerakan radikalisme dan budaya sadar konstitusi berbasis komunitas,yang berlangsung di  Agniya Cafe  Airsalobar ,Sabtu (18/9).

“Kami dari Seksi Pengembangan Oikumene Semesta (POS) GPM menggelar diskusi tentang gerakan radikalisme dan budaya sadar konstitusi berbasis komunitas ini merupakan hasil keputusan persidangan jemaat ke-49,”kata Ketua Seksi Pengembangan Oikumene Semesta GPM Imanuel Amahusu,Sammy Lamberth Yakobs ketika diwawancarai N25NEWS. com, disela-sela kegiatan tersebut.

Dijelaskannya,kegiatan yang tentu sangat bermpak positif karena tujuannya memberikan edukasi terhadap generasi muda tentang paham radikalisme yang tentu sangat berbahaya bagi generasi-generasi yang akan datang.Selain itu,kegiatan ini berjalan lancar karena ada kerjasama antar dua komunitas yakni muslim dan kristen (Air Salobar Pohon Mangga dan Negeri Amahusu).

“Kegiatan ini juga kita menghadirkan narasumber beberapa pihak yakni Rudy Fofid dari Budayawan,GPM yakni Ketua Klasis Pulau Ambon dan TNI yakni Letkol Inf M. Taha Fauth (Kasdim 1505/Ambon),”jelasnya.

Oleh karena itu melalui kegiatan tersebut,Jakobs berharap selain memberikan pemahaman kepada generasi muda di Ambon dan Maluku secara umum,namun kegiatan ini juga sebagai ajang silaturahmi antar dua komunitas (Islam dan Kristen) dalam konteks keberagaman.

“Dan tentu kita harus menyatuhkan visi kita dalam rangka ideologi Pancasila dan budaya sadar konstitusi berbasis komunitas,”terangnya.

Sedangkan ditempat yang sama,Ketua Majelis Jemaat GPM Imanuel Amahusu,Pdt W. Ayal MTH,menyampaikan terimakasih dan sangat menyambut baik digelarnya kegiatan terkait dengan paham radikalisme.Sebab kegiatan ini akan memberikan kecerahan mengenai pemahaman khusus bagi generasi muda tentang bahaya paham radikalisme.

“Kita patut memberikan apresiasi atas digelarnya kegiatan tentang paham radikalisme ini yang berjalan lancar,mengingat kita ada dalam situasi pandemi Covid-19,serta ditambah pula dengan berbagai berita-berita bohong (hoax),tetapi puji syukur kegiatan ini bisa berjalan lancar,”ujarnya.

Menurutnya lagi,kegiatan tersebut merupakan agenda yang telah ditetapkan untuk ditindaklanjuti dengan melibatkan generasi muda dalam hal ini pada tingkat remaja serta pemuda.

“Sudah waktunya kita ada dalam persaudaraan yakni basudara pemuda di Pohon Mangga dan Amahusu duduk bersama dan berperan dalam membatasi perbedaan soal pikiran miring antar dua golongan yang bisa melahirkan persoalan baru,”ucapnya.

Ia tegaskan sebagai gereja harus memainkan peran aktif dalam hal ini konsolidasi internal,guna bekerja untuk mencegah jangan samapi dikalangan kristen juga muncul pemikiran yang radikal berbasis teks-teks suci.

“Olehnya GPM harus bisa menafsirkan kembali ajaran-ajaran baru secara lebih baik,sebelum kita bertemu dengan pihak lain,kita harus benahi dulu kondisi-kondisi kita secara internal,”jelasnya.

Pada kesempatan yang sama pula dari,pihak TNI dala hal ini Kasdim 1504/Ambon,Letkol Inf M. Taha Fauth yang mewakili Dandim,sangat mensuport kegiatan tentang paham radikalisme ini,karena memberikan dampak positif bagi dua komunitas (Islam dan Kristen) di Air Salobar dan Amahusu.

“Saya berharap kedepan kedua kelompok generasi muda ini bisa berpikir untuk bagaimana mengembangkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari sehingga tidak menimbulkan pemahaman yang berbeda,”katanya.

Sementara itu,Borut yang adalah tokoh pemuda Pohon Mangga Air Salobar mengatakan diskusi tentang gerakan radikalisme sangat menarik karena yang menggelarkan kegiatan ini adalah pihak gereja.

Dia tegaskan semestinya peran komunitas agama yang perlu memainkan peran,sebab pemuda sebelumnya sering mengelar diskusi seperti ini tetapi dirasa belum efektif.Padahal edukasi mengenai paham radikalisme ini perlu dilakukan,karena diketahui radikalisme menjadi ancaman serius.

Menurut Borut diskusi-diskusi pada era kekinian sudah tidak berdampak,karena informasi kini semakin canggih,maka masing-masing pihak perlu implementasi secara nyata ke tingkat bawa.

“Untuk itu,saya berharap pengalaman diskusi yang seperti dulu kita tinggalkan,namun,kita perlu pemahaman sosial yang kita dapat yang mampu menangkal paham-paham tentang radikalisme,”tandasnya.

Editor : Aris Wuarbanaran

Check Also

UPT Pemasyarakatan Sabet Penghargaan Dari Dirjenpas

AMBON,N25NEWS.com  – Delapan Unit Pelaksana (UPT) Pemasyarakatan di lingkungan Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Hukum dan …