Lelapary Menyebut Pembelajaran Daring Di Masa Pandemic Covid-19 Berdampak Buruk Bagi Pendidikan Di Maluku

AMBON,N25NEWS.com-Saat ini, semua negara di dunia sedang menghadapi pandemi Covid-19. Semua aktifitas dibatasi untuk mencegah penyebaran virus corona, termasuk aktifitas pendidikan. Di Indonesia, sudah kurang lebih tiga bulan, semua aktifitas pendidikan, mulai dari tingkat dasar dan menengah hingga tingkat perguruan tinggi dilakukan secara daring, tanpa tatap muka antara pengajar dan peserta didik.

“Pembelajaran daring atau online,serta merta menyadarkan kita akan potensi luar biasa internet yang belum dimanfaatkan sepenuhnya dalam berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan.Tanpa batas ruang dan waktu, kegiatan pendidikan bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun. Terlebih lagi, di era dimana belum ada kepastian kapan pandemi ini akan berakhir, sehingga pembelajaran daring adalah kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi oleh seluruh masyarakat Indonesia,”kata Ketua Program Studi Pendidikan dan Sastra Indonesia Heppy L. Lelapary,S.Pd.,M.Pd,kepada N25NEWS. com,Sabtu (7/8/2021).

Menurutnya,pendidikan menjadi bagian penting yang harus di kelola dalam situasi pandemi Covid-19 ini.Bahkan dirinya sangsi kalau stekholder pendidikan di Kota Ambon hanya memikirkan pembelajaran online atau belajar dari rumah sebagai bentuk adaptasi baru.

Namun, dibalik setiap sisi positif suatu hal, pastilah tersimpan sisi negatif, atau setidaknya kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi. Meskipun secara formal kegiatan pendidikan masih bisa dilakukan secara daring,namun karena siswa dan mahasiswa harus belajar di rumah,dapat berpengaruh terhadap mutu dan kualitas SDM.

“Bagi saya jika pendidikan selama terus sistem daring akan juga berdampak pada karakter pelaku pendidikan di masa pandemi ini, rasanya menjadi sedikit terabaikan,”ujar Lelapary.

Sebelumnya, ketika kegiatan pendidikan dilakukan di sekolah, pendidikan karakter dilakukan dengan pengawasan langsung dari guru atau dosen. Kegiatan-kegiatan yang mendukung pendidikan karakter juga bisa dilakukan langsung, secara intensif dan bisa diukur tingkat keberhasilannya.

Oleh karena itu solusi saya adalah,kalau pendekatan PPKM ini tentu aktivitas dibatasi hanya untuk 30 orang,maka kita mempunyai ruang untuk aktivitas pembelajaran di kelas mungkin dibuat bentuk rombel atau klaster,”ucap Lelapary.

Akan tetapi saat ini, ketika kegiatan pendidikan dilakukan secara daring, dimana yang terjadi lebih banyak hanyalah proses pembelajaran, atau transfer pengetahuan saja, tak ada yang bisa menjamin siswa atau mahasiswa mendapatkan pendidikan karakter dan kualitas dari kedua orang tua mereka sesuai dengan nilai-nilai yang selama ini diajarkan oleh institusi pendidikan.

“Namun persoalannya bagi kita adalah beban guru untuk menangani mata pelajaran itu harus lebih,atau menambah tenaga guru untuk mengantisipasi pembelajaran dengan sistem rombel atau klaster,”papar Lelapary.

Lebih dalam Lelapary menegaskan,sistem pendidikan di Kota Ambon dan Maluku pada umumnya,mau tidak mau harus keluar dari pembelajaran online,sebab dikuatirkan akan berpengaruh terhadap mutu dan kualitas pendidikan di daerah ini.Olehnya,sistem pembelajaran harus tetap jalan dengan sistem tatap muka yang diatur secara baik agar tidak menjadi ekses line ketika berada diruang kelas setelah dan sebelum pelajaran dimulai.

Adapun,dengan pembelajaran tatap muka keteladanan para pendidik yang dilihat dan dirasakan langsung oleh para siswa dan mahasiswa adalah kunci utama pendidikan karakter di lembaga pendidikan. Terlebih pada keadaan saat ini, dimana banyak orang tua yang teramat sibuk bekerja, khususnya di waktu-waktu pembelajaran daring dilakukan. Tentunya mereka tak bisa mengawasi langsung apa yang dilakukan oleh anak-anak mereka.

Adapun,bagi Lelapary pembelajaran secara online ini sebenarnya sangat buruk dimasa pandemi ini.Dimana,tidak bisa menjamin mutu dari proses belajar mengajar online itu sendiri.Karena,apakah semau orangtua siswa terakses jaringan internet atau memiliki perangkat pembelajaran online itu sendiri.

Banyak pengajar yang mengeluhkan partisipasi siswa dan mahasiswa ketika pembelajaran daring berlangsung. Pengajar kesulitan memastikan apakah siswa dan mahasiswanya mengikuti pembelajaran dengan serius. Karena sering terjadi, dalam pembelajaran daring, ada siswa atau mahasiswa yang sengaja memasang video yang sudah direkam, agar seolah-olah mengikuti proses pembelajarann, namun ternyata mereka melakukan hal lain.

Dalam proses evaluasi pun banyak kesulitan yang dihadapi. Apabila biasanya tes atau ujian, guru atau dosen bisa melakukan pengawasan langsung, sehingga siswa atau mahasiswa bisa dididik untuk jujur dalam mengerjakan soal, sekarang keadaannya berubah, tak ada yang bisa mengawasi dan memastikan apakah soal-soal yang diberikan, dikerjakan sendiri atau tidak ? ataukah sembari mencari jawaban dari internet kemudian tinggal “copy-paste” jawaban.

Yang dikhawatirkan jika pandemi ini berlangsung lama, dan pembelajaran daring dilakukan selama setahun penuh atau mungkin lebih, generasi muda bangsa ini akan terbiasa dengan berbagai kemudahan-kemudahan yang tak mendidik dan mendewasakan. Mereka bisa jadi akan kehilangan setahun penuh dengan pembelajaran tatap muka yang nilainya sangat berharga sebagai bekal menjalani kehidupan.

Bangsa ini tidak lagi menghadapi ancaman kekurangan orang-orang pintar di era internet seperti sekarang ini. Akses informasi tanpa batas memudahkan setiap orang untuk belajar apapun. Namun pembelajaran online berbeda dengan tatap muka, apalagi pendidikan karakter. Bangsa ini butuh generasi muda yang karakter positifnya terbentuk, dan itu hanya bisa diraih dengan pendidikan karakter yang mengedepankan keteladanan para pengajar, yang harus disaksikan dan ditiru langsung oleh para siswa dan mahasiswa.

Oleh karena itu, sudah saatnya Pemerintah dan segenap elemen pendidikan di Indonesia memikirkan bagaimana cara mengganti pembelajaran secara online,sebab mutu dan kualitas pendidikan yang selama masa pandemi ini terpaksa harus terabaikan.

“Untuk itu,saya berharap pembelajaran online sangat diragukan dan semua serba terbatas,sehingga baiknya pembelajaran ini dilakukan secara tatap muka dan semua kegiatan dapat terpantau dengan baik dan penyelenggaraannya bisa dilaksanakan secara maksimal,”tandas Lelapary.

Check Also

Antusias Siswa Ikut Program Presisi Di SMK Negeri 7 Ambon Cukup Baik

AMBON,N25NEWS.com-Program presisi dengan pendekatan siswa serta kondisi disekitarnya,dimana siswa tertantang untuk mencari sendiri sumber,lewat ide …