Renta Rego Buka Orientasi Pendampingan Perawatan Jangka Panjang Bagi Lansia Provinsi Maluku

AMBON,N25NEWS.com-Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Maluku Dra. Renta Rego mengatakan, populasi Lansia di Indonesia sesuai dengan data BPS tahun 2020 berjumlah 26 juta jiwa atau 9,92 persen dari total penduduk.Sementara hasil SP tahun 2020 populasi di Maluku berjumlah 107.237 atau 5,8 persen dari total penduduk Maluku sebanyak 1.848.923.

Jumlah Penduduk Lansia di Indonesia bahkan Maluku mengalami peningkatan yang signifikan.Sesuai dengan proyeksi penduduk bahwa pada tahun 2045 penduduk lansia mencapai 19,8 persen.

“Perlu kita ketahui penuaan penduduk merupakan salah satu hasil dari pembangunan seperti peningkatan kesehatan, gizi, pendidikan dan teknologi sehingga kualitas hidup lansia lebih baik dan usia harapan hidup kita meningkat,”ungkap Rego dalam sambutannya pada acara Pembukaan Orientasi Pendampingan Perawatan Jangka Panjang Bagi Lansia Provinsi Maluku Tahun 2021 yang berlangsung di kantor BKKBN Provinsi Maluku,Selasa (18/5).

Disampaikannya,besarnya jumlah penduduk lansia dapat membawa dampak positif maupun negatif.Sebab,kehadiran lansia dapat berdampak positif apabila penduduk tersebut berada dalam keadaan sehat,aktif dan produktif,namun apabila banyak lansia yang rentan karena mengalami penurunan kapasitas fisik, mental dan kognitif akan berdampak negatif bagi pembangunan.

Selain itu,rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2020-2024, Penguatan Pelayanan Ramah Lansia melalui Tujuh Dimensi Lansia Tangguh dan Pendampingan Perawatan Jangka Panjang (PJP) bagi lansia merupakan salah satu proyek BKKBN untuk mendukung Prioritas Nasional.

Hal itu, guna “Meningkatkan Sumber Daya Manusia Berkualitas dan Berdaya Saing” dengan Program Prioritas “ Penguatan Pelaksanaan Perlindungan Sosial” dan Kegiatan Prioritas “Kesejahteraan Sosial”.

Adapun,output yang diharapkan dari proyek ini adalah kelompok Bina Kelurga Lansia dapat melakukan pelayanan ramah lansia melalui 7 dimensi lansia Tangguh dan pendampingan perawatan jangka Panjang bagi lansia.
“Pembinaan kita pada ketahanan keluarga Lansia dan Rentan merupakan bagian dari urusan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, terutama sub urusan Keluarga Sejahtera yang merupakan urusan pemerintahan yang wajib tapi tidak berkaitan dengan pelayanan dasar,”jelasnya.

“Pembagian kewenangan antara pemerintah dan pemerintah daerah diatur dalam Undang-undang nomor 23 tahun 2014 tentang pemerintahan daerah oleh karena itu dalam peaksanaan proyek ini, kami harapkan ada sinergitas antara Perwakilan BKKBN Provinsi dan OPD Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana serta mitra kerja terkait,”ujarnya.

Baca juga :   Dua Tahun Berdiri Yayasan Pelangi Maluku  berkomitmen Klinik Ini Dapat Diakses Berbagai Komunitas

Lebih lanjut,kata Rego,perlu disadari bahwa kondisi lansia saat ini bukan tanpa masalah dan tantangan.Berbagai permasalahan terutama yang terkait dengan aspek kesehatan dan ekonomi yang akan berdampak pada kualitasnya sebagai Sumber Daya Manusia Pembangunan.

Dengan demikian lansia dapat menjadi salah satu kelompok rentan yang harus menjadi perhatian dari banyak pihak.Salah satu program terkait lansia yang dikembangkan oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dilingkungan masyarakat adalah kelompok kegiatan Bina Keluarga Lansia (BKL) yang menjadi wadah bagi keluarga lansia dan para lansia untuk mewujudkan Lansia Tangguh melalui 7 Dimensi Lansia Tangguh serta meningkatkan kemampuan keluarga dalam mendampingi lansia yang membutuhkan perawatan jangka panjang (PJP) di BKL.

Perawatan jangka panjang adalah kegiatan yang dilakukan oleh orang lain, baik itu pendamping (caregiver) formal atau informal untuk memastikan bahwa lansia yang mengalami atau berisiko mengalami penurunan/kehilangan kapasitas intrinsic dapat mempertahankan kapabilitas fungsional yang konsisten dengan hak-hak dasarnya, kebebasan yang fundamental dan menjaga martabatnya.

Pandemi Covid – 19 yang terjadi sepanjang tahun 2020 sampai saat ini menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh lansia karena lansia merupakan kelompok usia yang paling rentan terpapar Covid-19. Kerentanan pada lansia terjadi karena melemahnya fungsi imun serta adanya penyakit generative.

Untuk itu,keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam situasi pandemi covid ini,dimana keluarga yang tinggal bersama lansia harus melakukan perlindungan kepada lansia dengan memperhatikan protocol kesehatan untuk menjaga lansia agar tidak terpapar covid-19.

“Saya menyambut baik kegiatan ini, dan harapan saya semoga kelanjutan dari kegiatan ini peserta dapat :

1.Mensosialisasikan materi pendampingan perawatan jangka panjang bagi lansia.
2.Terlaksananya pendampingan perawatan jangka panjang bagi lansia melalui identifikasi kemandirian lansia melalui instrument Activity Daily Living (ADL) dan Instrumental Activity Dailiy Living (IADL).

3.Terlaksananya pendampingan jangka panjang bagi lansia oleh keluarga anggota BKL yang memiliki lansia yang membutuhkan perawatan jangka Panjang.

4.Melakukan pendampingan kepada lansia yang membutuhkan PJP yang tidak memiliki keluarga dan dirujuk kepada instansi atau mitra kerja terkait dalam upaya meningkatkan kualitas hidup lansia di Provinsi Maluku,”tandas Rego.

Check Also

Dua Tahun Berdiri Yayasan Pelangi Maluku  berkomitmen Klinik Ini Dapat Diakses Berbagai Komunitas

AMBON,N25NEWS.com-Yayasan Pelangi Maluku (YPM) mendirikan klinik komunitas Candela yang sudah di berjalan selama dua tahun,dimana …