Tiga Pasien Asal MBD Yang Terkonfirmasi Posetif Corona Diduga Tertular Di Kapal

AMBON,N25NEWS.com-Tiga orang pasien asal Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) yang terkonfirmasi posetif Covid-19 diduga tertular di kapal penumpang saat melakukan perjalanan dari daerah yang menjadi zona merah.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Komisi III DPRD Provinsi Maluku,Rovik Akbar Afifudin kepada awak media di gedung rakyat Maluku atau Karang Panjang (Karpan) Ambon,rabu (03/06).

Menurutnya,virus corona ini bisa berada dimana saja dan siapa pun dapat terpapar.Sebab pada kasus di MBD ini yang terjangkit di kapal penumpang,maka hal ini patut dipertanyakan ?,olehnya anak buah kapal (ABK) harus di swab yang berlaku selama 7 hari.Jika dalam perjalanannya kapal tersebut selama seminggu maka sesuai aturan harus dilakukan rapit test.

“Saya harap kapal-kapal yang beroperasi melayani penumpang harus disemprot cairan disenfektan,karena ini standart yang harus dilakukan sehingga tidak menimbulkan saling tuduh satu dengan yang lainnya.Selain itu,proses administrasi harus ada keterangan sehat,nah saya kira itu yang menjadi permasalahan,”kataAfifudin.

Dikatakannya lagi,kalau menjalankan aturan sesuai dengan surat Menteri Perhubungan yang melakukan pembatas terhadap kapal laut yang sesuai dengan peraturan nomor 13,maka harus ada koordinasi.Selain itu,pada pelabuhan laut juga harus ada tenaga kesehatan dan itu harus dilakukan.

“Sama seperti jalan-jalan tikus,dimana sebenarnya masyarakat miliki agar sampai tujuan,karena kita hanya mengunci wilayah-wilayah dan pelabuhan saja,tetapi jalan lain masih tetap ada.Itu yang saya katakan,kalau kita hanya berpikir normatif dalam memahami virus ini,lalu kita terkejut dengan banyaknya pasien yang terpapar bisa saja kita meninggal karena panik,”jelas Afifudin.

Baca juga :   Pabung Malteng Lepas Anggota Pindah Satuan

Seperti yang telah dikatakan,seakan-akan hari ini mainset masyarakat di Indonesia ini baru meninggal sekitar 1.500 orang,lalu yang sakit baru 27 ribu orang seakan-akan seperti itu,karena setiap hari publik disuguhi dengan berita tentang orang meninggal,jumlah pasien meningkat dan sembuh dan sebagainya,padahal coba kalau di buka satu hari ada banyak jumlah orang yang meninggal.

“Jadi maksud saya pemerintah harus mendorong masyarakat agar sama-sama dapat keluar dari masalah ini.Para pimpinan daerah fokus karena tidak ada yang menjamin dengan dikuncinya pelabuhan ini,kemudian tidak ada corona,lalu kalau tidak ada virus ini kemudian pemerintah mengunci pelabuhan terus menerus bagaimana masyarakat mau hidup ini yang sulit,”jelasnya.

“Ada baiknya kita buat standart saja,kalau memang dalam kekhatiran rapit test dan sebagainya,karena kasihan ada orang yang ingin pulang lantaran studi misalnya  Maluku mau ke Jawa,harus di sweb dan dari pemerintah harus ditracking dan sweb mandiri dengan biaya Rp 2.500.000,makanya harus dilakukan lintas sektor dari pemerintah kabupaten/kota dab pemerintah provinsi,”tandas Afifudin.

Reporter      : M Nurlette

Editor           : Redaksi

 

 

 

Check Also

UPT Pemasyarakatan Sabet Penghargaan Dari Dirjenpas

AMBON,N25NEWS.com  – Delapan Unit Pelaksana (UPT) Pemasyarakatan di lingkungan Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Hukum dan …