Ukulele Untuk Relationship Tourism

AMBON,N25NEWS.com-Founder Amboina Ukulele Kids Community (AUKC) Nicho Tulalessy mengatakan pengembangan pariwisata Maluku khususnya Kota Ambon tidak cukup hanya sebatas membidik tempat wisatanya.Namun,ada tata kelola yang melibatkan semua elemen didalamnya.Salah satunya,mempromosikan musik tradisional yakni Ukulele untuk menjadi daya tarik tersendiri bagi orang luar negeri (turis).

Menurut pegiat pariwisata musik ini,musik tradisional Ukulele membutuhkan kepentingan kerjasama untuk menghadirkan animo anak-anak secara massal yang terkoordinir secara rapi sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi para turis mancanegra,maka tentu dampaknya ada terjalin kerjasama atau Ukulele for Relationship Tourism.

“Dengan promosi musik tradisional Ukulele secara masif,kita bisa lihat anak-anak remaja Amerika Serikat yang tertarik bermain dan belajar alat musik tersebut dengan AUKC,”kata Tulalessy kepada N25NEWS.com,di Ambon,Senin (2/8/2021).

Adapun,dampak positif dari program Ukulele untuk Relationship Tourism tersebut adanya keakraban atau hubungan relasi antara anak-anak AUKC dengan anak-anak dari luar negeri dan bahkan mereka saling berkontak dan ini berdampak kepada sustanaible tourism di kemudian hari.

“Jadi konsep sederhana ini yang kita buat sehingga terlihat jelas sangat praktis dan ekonomis,sebab kita tidak perlu membuat konsep pada acara yang besar yang tentu memakan anggaran begitu besar pula tetapi tidak sustainble,”ujar Tulalessy.

Selain itu,kata Tulalessy kedatangan para turis anak-anak remaja asal Amerika Serikat ini,karena mereka tau Ambon adalah city of music dan banyak pula musisi beken asal kota mungil nan indah ini.Serta mendengar cerita tentang Ambon dari beberapa kapal layar (yacht) yang pernah datang ke Ambon.

Diketahui,turis asal Amerika Serikat yang datang ke Dusun Tuni Urimesing Kecamatan Nusaniwe Kota Ambon,salah satu putra turis tersebut adalah seorang pemain musik dan sangat ingin bermain musik dengan Amboina Ukulele Kids Community.

Pelaksanaan program Ukulele for Relationship Tourism ini memang sangat singkron dengan objek wisata di Dusun Tuni,dalam hal ini alat musik Suling Bambu milik Rence Alfons yang lokasi Dusun Tuni di pegunungan.

Hal tersebut sejalan dengan apa yang sudah direncanakan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon yang menetapkan Amahusu dan Tuni sebagai desa dan musik.Selain itu,selaku pelaku pariwisata tentu bertanggung jawab mempromosikan wisata ke manca negara.

“Sehingga saya jelaskan kepada para turis bahwa mereka tidak bisa samakan Ambon sebagai kota musik,yang para pelaku musiknya di jalan-jalan seperti di Jawa.Kita tidak seperti itu,kita adalah spesialnya musik tradisional dan jika mereka (turis) ingin lebih tau, mereka harus datang ke desa-desa yang memang memiliki wisata musik,”jelas Nicho.

Lebih dalam ujar Tulalessy,konsep relationship tourism ini dipadukan menjadi musik tourism.Dimana,para turis yang berkunjung ke rumah warga di jamuh seperti keluarga sendiri dengan tradisi adat Maluku,seperti minuman tradisional sopi dan memang konsep ini tidak ada di tempat lain.

Namun tambah Tulalessy,konsep tersebut dikembangkan,tetapi tentu juga butuh support dari pemerintah, walaupun didasari kondisi pandemi Covid-19,tetapi pariwisata musik di Maluku harus tetap diperjuangkan agar tetap bertahan dan maju.

“Untuk itu,banyaknya pariwisata di Indonesia dan provinsi lain,namun kita tetap berprinsip untuk mengelola budaya kearifan lokal kita untuk menjadi bagian terpenting untuk promosi pariwisata,”tandas Tulalessy.

Check Also

Ekspedisi Banda Naira

BANDA,N25NEWS.com – Sejak lama Blitar telah menggoreskan sejarah besar di Nusantara. Baik di zaman Singasari, …